Jumat, 11 Desember 2015

Pantai Nongsa ( Batam )

Kota Batam menyandang image sebagai kota industrial, mulai dari garmen, elektronik, sampai galangan kapal. Ia juga menjadi kota pusat belanja murah, seperti barang-barang elektronik, hingga sebutan sebagai kota ‘ruli‘ (rumah liar) akibat tingginya arus migrasi dari berbagai daerah di Nusantara untuk mencari pekerjaan di kota ini. Namun, pada kenyataanya Kota Batam memiliki kawasan wisata alam yang layak diperhitungkan keberadaannya. Yakni, sebuah pantai yang terletak di bagian timur laut Pulau Batam. Pantai Nongsa namanya.
Kawasan wisata pantai ini terletak di Kelurahan Sambu, Kecamatan Batam Timur, Kota Batam, Kepulauan Riau, Indonesia.

Pantai Nongsa merupakan salah satu potensi wisata alam yang mampu menyedot wisatawan domestik maupun mancanegara untuk datang ke Kota Batam. Karena, pantai yang terletak di bagian timur laut Pulau Batam ini memadukan keindahan pantai dengan nuansa kota modern.


Nama ‘nongsa‘ diadopsi dari nama seorang tokoh Melayu yang pertama kali mengembangkan wilayah pesisir ini, dari lahan kosong dan tidak terurus dengan balutan semak-belukar berupa pohon bakau dan perdu menjadi kawasan yang memiliki nilai jual. Oleh masyarakat setempat, kawasan ini dijuluki sebagai wilayah Nongsa Tua.

Dari pantai ini, pesisir pantai Singapura bagian selatan bisa dicapai hanya dengan setengah jam berperahu motor. Dekatnya jarak ini menyebabkan masyarakat desa di sana pada tahun 1970an hingga 1980an lebih mengenal mata uang dolar Singapura atau ringgit Malaysia ketimbang rupiah.  Pada periode itu, para nelayan di wilayah Nongsa menjual ikannya, seperti ikan kerapu, selar, dan ikan-ikan karang lainnya, langsung ke Singapura. Selain menjual ikan, mereka juga biasa menjajakan kayu dari hutan-hutan di Pulau Batam yang kala itu wajah pulau ini masih berupa hutan bakau yang menjadi habitat berang-berang, pelbagai burung rawa, serta elang laut putih.

Kini, Pantai Nongsa Tua telah menjelma sebagai kawasan rekreasi yang prestisius. Tempat ini juga merupakan sebuah kawasan yang selalu diperebutkan oleh para investor untuk membangun resort. Tak jarang penduduk lokal hanya bisa melihat resort eksklusif yang tak terjangkau harganya. Sebagai masyarakat nelayan yang menjadikan laut sebagai penopang hidupnya, penduduk lokal kini tidak lagi bisa bebas berlayar. Pengelola resort kerap melarang mereka membangun bagang di sekitar pantai karena dianggap membahayakan kapal-kapal pesiar atau kapal wisata yang akan berlabuh di salah satu resort yang ada.

Biasanya orang mengungkapkan kekagumannya, kesannya, pada pantai yang dikunjungi tidak jauh dari apa yang ‘dimiliki‘ pantai itu. Misalnya hal-hal lumrah seperti kondisi air pantai yang tenang atau berombak besar, warna air lautnya, pasirnya yang putih, terumbu karang sebagai rumah ribuan biota laut, dan seterusnya. Dari semua itu, Pantai Nongsa punya hal lain dan unik yang tidak banyak dimiliki sebagian besar pantai di Indonesia, yakni pemandangan kota Singapura pada malam hari.

Pantai ini menghadap ke barat laut, karena itu Anda akan disuguhi pemandangan matahari terbenam yang memukau di kala senja. Saat senja, pudarnya mega di ufuk barat mengiringi kepergian sang surya, sementara di sebelah utara Anda akan menyaksikan gemerlap lampu-lampu gedung di Singapura mulai menyala mengganti peran matahari. Singapura malam hari menampilkan kerlap-kerlip dan kilau ribuan lampu kota megapolitan a la New York khas Asia Tenggara, di mana tampak gedung-gedung hunian dan perkantoran pencakar langit masa kini. Moment ini jangan pernah terlewat bila mengunjungi Pantai Nongsa.

Lebih dari itu, mengunjungi Pantai Nongsa akan terasa natural karena lingkungannya terjaga dengan baik. Bagi pengunjung yang ingin berenang di resiknya air laut, maupun ber-snorkeling menyaksikan panorama bawah laut, ada baiknya lebih berhati-hati karena di tempat ini belum ada penjaga pantai yang memantau wisatawan. Terutama bagi para orang tua yang membawa putra-putrinya untuk bermain air.

Selain keindahan pantai dan laut, serta nuansa metropolis Singapura yang dapat Anda nikmati sepuasnya, ada baiknya Anda mengunjungi masyarakat lokal di kawasan ini yang sebagian besar merupakan warga asli Melayu.

Di sini, Anda dapat mengunjungi permukiman penduduk yang terdapat di sepanjang pesisir pantai di Teluk Tering, yakni Kampung Batu Besar dan Kampung Nongsa. Mayoritas dari mereka bermata pencaharian sebagai nelayan, sebagian yang lain berprofesi sebagai pedagang di kawasan sekitar pantai. Menyaksikan dan mengikuti aktivitas keseharian mereka yang barangkali berbeda jauh dari kehidupan rutin Anda, tentunya merupakan sebuah pengalaman yang mengasyikkan.

Kawasan ini makin istimewa karena wisatawan mudah menjangkau tempat wisata unggulan lainnya di Provinsi Kepulauan Riau, seperti Pantai Sekilak dan Pantai Maimun yang juga tidak kalah cantiknya dengan Pantai Nongsa, Pulau Penyengat, Pulau Lingga, Jembatan Barelang, Kamp Pengungsian Vietnam di Pulau Galang, serta pusat-pusat perbelanjaan di Kota Batam, seperti kawasan Nagoya yang hanya memerlukan waktu 20 menit perjalanan.

Untuk sampai di Pantai Nongsa, wisatawan dapat menggunakan taksi yang ‘berkeliaran‘ di sekitar Kota Batam. Dengan taksi, wisatawan membutuhkan waktu lebih-kurang 40 menit dengan tarif Rp75.000,- dari pusat Kota Batam (November 2008).

Bila dari Bandara Hang Nadim, Kota Batam, kurang lebih akan memakan waktu 25 menit dengan mobil atau sepeda motor sewaan. Untuk menuju Pantai Nongsa dari bandar udara ini, pengunjung disarankan melalui Jalan Hang Tuah ke arah timur, hingga bertemu pertigaan jalan. Kemudian belok kiri (ke arah utara), melewati Jalan Hang Jebat sampai di pertigaan jalan kedua. Di persimpangan ini, pengunjung harus belok kiri untuk kali kedua dan lewat Jalan Hang Lekiu yang langsung menuju Pantai Nongsa dengan waktu tempuh 10 sampai 15 menit. Alangkah lebih baik menanyakan arah dan jalan pada warga sekitar agar tidak tersesat. Karena, ada kemungkinan arah dan jalan di sekeliling pantai akan terasa membingungkan untuk kunjungan kali pertama.

Selain itu, bagi wisatawan yang tengah berada di Singapura, dapat menggunakan kapal ferry dari pelabuhan Tanah Merah, Singapura. Kapal ferry ini akan berlabuh di Terminal Ferry Nongsa (ferry port Nongsa).

Pantai Nongsa secara sengaja telah disiapkan oleh Pemerintah Otorita Batam sebagai kawasan wisata yang representatif bagi siapa saja yang mengunjunginya. Karena itu, Anda tidak akan kesulitan menemukan hotel dengan berbagai kelas, pusat-pusat lapangan golf, resort berkelas internasional, persewaan perlengakapan olahraga air, kemudahan mengakses transportasi umum (taksi), rumah sakit, ATM (anjungan tunai mandiri), toilet, dan lain sebagainya.

Selain itu, jangan pernah lewatkan menyantap makanan khas laut Kepulauan Riau di restoran-restoran sea food di Batu Besar, Nongsa. Rumah makan di Batu Besar ini, biasanya dijadikan rujukan wisatawan yang mengunjungi Pantai Nongsa. Begitu juga dengan keberadaan kedai-kedai yang menjajakan kelapa muda dan minuman menyegarkan lainnya.

Aktivitas wisata Anda akan semakin komplit ketika singgah di pusat kerajinan tangan yang ada di sekitar Pantai Nongsa. Di sini, beragam cenderamata khas Melayu Kepulauan Riau dapat dibeli untuk pribadi, kerabat, maupun kolega.

Pantai Lagoi ( Bintan )

Pantai Lagoi merupakan salah satu obyek wisata kebanggaan Pemerintah Kabupaten Bintan, Propinsi Kepulauan Riau. Pantai Lagoi terletak di Kecamatan Bintan Utara, Kabupaten Bintan, Propinsi Kepulauan Riau, Indonesia. Obyek wisata berkelas dunia ini memiliki pemandangan alam yang indah dan kondisi lingkungan yang bersih. Pohon kelapa yang berjajar rapi di sepanjang tepian pantai juga menjadi salah satu daya tarik kawasan wisata Pantai Lagoi. Di samping keindahan alamnya, keramahan penduduk setempat juga menjadi keistimewaan tersendiri, sehingga mampu memikat para pelancong yang berkunjung ke kawasan wisata ini.

Keberadaan obyek wisata Pantai Lagoi didukung pula dengan keindahan alam lainnya yang tak kalah menarik, yaitu Sungai Sebong, Hutan Mangrove, dan berbagai macam resort. Berbagai tempat tersebut masing-masing menawarkan panorama alam yang indah beserta keistimewaan-keistimewaannya.

Mengunjungi Pantai Lagoi Anda dapat menyaksikan deburan ombak sambil melakukan aktivitas-aktivitas seperti mandi, berenang, berendam, atau menyelam menyusuri keindahan dasar lautnya. Setelah puas menikmati aktivitas di air ini, pelancong dapat berjemur di atas hamparan pasir putihnya yang luas dan landai, sembari menikmati hangatnya sinar matahari. Anda juga dapat berjalan-jalan santai menyusuri keindahan pesisir pantai sambil menghirup udaranya yang sejuk.

Setelah puas menikmati panorama alam tersebut, pelancong juga dapat menikmati keindahan dan kenyamaan resort-resort yang berada ratusan meter dari pantai ini. Di resort ini, pelancong dapat bermain golf, berenang di kolam renang, menikmati spa, melihat keindahan wahana laut, dan melakukan aktivitas seperti diving, snorkeling, dan lain-lain.

Pelancong juga dapat melanjutkan berwisata menyusuri keindahan Sungai Sebong dengan menyewa perahu nelayan. Selama perjalanan, pelancong dapat melihat indahnya berbagai macam tumbuhan mangrove. Pemandangan menarik lainnya adalah berbagai macam tumbuhan yang tumbuh subur di pinggiran sungai seperti rhizophora, bakau, pandan, dan pohon nipah yang tergolong langka. Dari atas perahu itu, pelancong juga dapat melihat hewan-hewan liar yang hidup di pinggiran Sungai Sebong.

Bagi pelancong yang gemar memancing, dapat mengunjungi gubuk-gubuk kecil milik nelayan yang berada di muara Sungai Sebong. Gubuk-gubuk kecil yang terbuat dari pohon bakau dan beratapkan daun nipah ini, biasanya digunakan untuk menangkap ikan bilis dan cumi-cumi.

Keistimewaan Hutan Mangrove di Sungai Sebong yaitu kondisi airnya terbagi menjadi tiga jenis: air asin, air payau, dan air tawar. Dari kawasan ini, wisatawan dapat melihat berbagai spesies tumbuhan yang hidup di dalamnya. Di daerah air asin misalnya, pelancong dapat melihat jenis spesies rhizophora. Di zona air payau terdapat tumbuhan dengan jenis bruguiera. Sementara pada daerah air tawar terdapat tumbuhan jenis xylocarpus.

Untuk menuju Pantai Lagoi, perjalanan dapat dimulai dari Tanjung Pinang dengan menggunakan mobil sewaan, taksi, atau travel. Dari kota Tanjung Pinang sampai ke lokasi wisata biasanya akan dibutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Bagi wisatawan dari Batam, perjalanan dapat dimulai dari pelabuhan penyeberangan Telaga Punggur. Dari pelabuhan ini, pelancong dapat naik speed boat menuju Tanjung Uban dengan ongkos sekitar Rp 30.000 per orang. Setelah sampai di Tanjung Uban, kemudian pelancong naik taksi menuju Pantai Lagoi. Perjalanan dari Tanjung Uban sampai ke lokasi wisata membutuhkan waktu sekitar 15—25 menit. Selain speed boat, wisatawan juga dapat naik kapal ferry dari Telaga Punggur menuju ke Lagoi. Kapal ferry menuju Lagoi beroperasi sebanyak 3 kali setiap hari (Desember 2008).

Demi kenyamanan para pelancong, di kawasan wisata pantai ini terdapat berbagai macam fasilitas seperti hotel, mulai dari kelas melati sampai kelas berbintang, villa, restoran, kios suvenir, kamar mandi/kamar bilas, area parkir yang cukup luas, tempat persewaan alat pancing, dan lain-lain. Selain itu terdapat juga kios yang menjajakan masakan khas Bintan yaitu gonggong dan otak-otak. Gonggong adalah siput laut yang dimasak mirip sate. Sedangkan otak-otak merupakan ikan laut yang dimasak dengan cara dibungkus daun rumbia.

Masjid Sultan Riau ( Pulau Penyengat )

Masjid Raya Sultan Riau adalah salah satu obyek wisata sejarah termasyhur yang berada di Pulau Penyengat, Propinsi Kepulauan Riau. Masjid ini mulai dibangun ketika pulau ini dijadikan sebagai tempat tinggal Engku Puteri Raja Hamidah, istri penguasa Riau waktu itu, Sultan Mahmudsyah (1761—1812 M). Pada awalnya, masjid ini hanya berupa bangunan kayu sederhana berlantai batu bata yang hanya dilengkapi dengan sebuah menara setinggi kurang lebih 6 meter. Namun, seiring berjalannya waktu, masjid ini tidak lagi mampu menampung jumlah jamaah yang terus bertambah, sehingga Yang Dipertuan Muda Raja Abdurrahman —Sultan Kerajaan Riau pada 1831—1844 M— berinisiatif untuk memperbaiki dan memperbesar masjid tersebut.

Untuk membuat sebuah masjid yang besar, Sultan Abdurrahman menyeru kepada seluruh rakyatnya untuk beramal dan bergotong-royong di jalan Allah. Peristiwa bersejarah itu terjadi pada tanggal 1 Syawal 1248 H (1832 M), atau bertepatan dengan hari raya Idulfitri. Panggilan tersebut ternyata telah menggerakkan hati segenap warga untuk berkontribusi pada pembangunan masjid tersebut. Orang-orang dari seluruh pelosok teluk, ceruk, dan pulau di kawasan Riau Lingga berdatangan ke Pulau Penyengat untuk mengantarkan bahan bangunan, makanan dan tenaga, sebagai tanda cinta yang tulus kepada sang Pencipta dan sang sultan. Bahkan, kaum perempuan pun ikut serta dalam pembangunan masjid tersebut, sehingga proses pembangunannya selesai dalam waktu yang cepat. Terbukti, pondasi setinggi sekitar 3 meter dapat selesai hanya dalam waktu 3 minggu.

Konon, karena banyaknya bahan makanan yang disumbangkan penduduk, seperti beras, sayur, dan telur, para pekerja sampai merasa bosan makan telur, sehingga yang dimakan hanya kuning telurnya saja. Karena menyayangkan banyaknya putih telur yang terbuang, sang arsitek yang berkebangsaan India dari Tumasik (sekarang Singapura) punya ide untuk memanfaatkannya sebagai bahan bangunan. Sisa-sisa putih telur itu kemudian digunakan sebagai bahan perekat, dicampur dengan pasir dan kapur, sehingga membuat bangunan masjid dapat berdiri kokoh, bahkan hingga saat ini.  

Masjid dengan ketebalan dinding mencapai 50 cm ini adalah bangunan istimewa yang wajib dilindungi, karena merupakan satu-satunya peninggalan Kerajaan Riau-Lingga yang masih utuh. Luas keseluruhan kompleks masjid ini sekitar 54,4 x 32,2 meter. Bangunan induknya berukuran 29,3 x 19,5 meter, dan ditopang oleh empat tiang. Lantai bangunannya tersusun dari batu bata yang terbuat dari tanah liat. Di halaman masjid, terdapat dua buah rumah sotoh yang diperuntukkan bagi musafir dan tempat menyelenggarakan musyawarah. Selain itu, di halaman masjid juga terdapat dua balai, tempat menaruh makanan ketika ada kenduri dan untuk berbuka puasa ketika bulan Ramadhan tiba.

Dari Dermaga Panjang dan Pelabuhan Sri Bintan Pura, Kota Tanjung Pinang, bangunan Masjid Raya Sultan Riau yang berwarna kuning cerah terlihat mencolok di antara bangunan-bangunan lainnya di pulau kecil seluas 240 hektar itu. Tiga belas kubah dan empat menara masjid berujung runcing setinggi 18,9 meter yang dulu digunakan oleh muadzin untuk mengumandangkan panggilan shalat membuat bangunan itu tampak megah seperti istana-istana raja di India. Susunan kubahnya bervariasi, mengelompok dengan jumlah tiga dan empat kubah. Ketika kubah dan menara tersebut dijumlah, ia menunjuk pada angka 17. Hal ini dapat diartikan sebagai jumlah rekaat dalam shalat yang harus dilakukan oleh setiap umat Islam dalam sehari.  

Dilihat dari bentuk arsitekturnya, Masjid Sultan Riau di Penyengat ini sangat unik. Tidak diketahui secara persis gaya arsitektur mana yang diadopsi oleh masjid ini. Ada yang mengatakan, masjid ini bergaya India, karena tukang-tukang yang membuat bangunan utamanya adalah orang-orang India yang didatangkan dari Tumasik (Singapura). Namun, dilihat dari bentuk bangunan utama dan bagian-bagian yang mendukungnya, arsitektur masjid ini merupakan perpaduan dari berbagai gaya, yaitu Arab, India, dan Melayu. Dalam dua kali pameran masjid pada Festival Istiqlal di Jakarta tahun 1991 dan 1995, Masjid Sultan Riau ini ditetapkan sebagai masjid pertama di Indonesia yang memakai kubah di atapnya.  

Keistimewaan dan keunikan masjid ini juga dapat dilihat dari benda-benda yang terdapat di dalamnya. Di dekat pintu masuk utama, pengunjung dapat menjumpai mushaf Alquran tulisan tangan yang diletakkan di dalam peti kaca di depan pintu masuk. Mushaf ini ditulis oleh Abdurrahman Stambul pada tahun 1867 M. Ia adalah salah seorang putra Riau yang dikirim Kerajaan Riau-Lingga untuk menuntut ilmu di Istambul, Turki. Mushaf bergaya Istambul ini ditulis oleh penulisnya di sela-sela kegiatannya mengajar agama Islam di Pulau Penyengat.  Sebenarnya, masih ada satu lagi mushaf Alquran tulisan tangan yang terdapat di masjid ini, namun tidak diperlihatkan untuk umum. Usianya lebih tua dibanding mushaf yang satunya, karena dibuat pada tahun 1752 M. Di bingkai mushaf yang tidak diketahui siapa penulisnya ini terdapat tafsiran-tafsiran dari ayat-ayat Alquran. Hal ini mengindikasikan bahwa orang-orang Melayu tidak hanya menulis ulang mushaf, tetapi juga mencoba menerjemahkannya. Sayangnya, mushaf tersebut tidak dapat diperlihatkan kepada wisatawan lantaran kondisinya sudah rusak. Mushaf ini tersimpan bersama sekitar 300-an kitab di dalam dua lemari yang berada di sayap kanan depan masjid. Kita-kitab tersebut adalah sisa-sisa kitab yang dapat diselamatkan dari perpustakaan Kerajaan Riau-Lingga, saat terjadi eksodus besar-besaran masyarakat Riau ke Singapura dan Johor pada awal abad ke-20 karena kecamuk perang melawan penjajah Belanda.  


Benda lainnya yang menarik untuk dilihat adalah sebuah mimbar yang terbuat dari kayu jati. Mimbar ini khusus didatangkan dari Jepara, sebuah kota kecil di pesisir pantai utara yang terkenal dengan kerajinan ukirnya sejak lama. Sebenarnya ada dua mimbar yang dipesan waktu itu, yang satu adalah mimbar yang diletakkan di Masjid Sultan Riau ini, sedangkan yang satunya lagi, yang berukuran lebih kecil, diletakkan di masjid di daerah Daik. Di dekat mimbar Masjid Sultan Riau ini tersimpan sepiring pasir yang konon berasal dari tanah Mekkah al-Mukarramah, melengkapi benda-benda lainnya seperti permadani dari Turki dan lampu kristal. Pasir ini dibawa oleh Raja Ahmad Engku Haji Tua, bangsawan Riau pertama yang menunaikan ibadah haji, yaitu pada tahun 1820 M. Pasir tersebut biasa digunakan masyarakat setempat pada upacara jejak tanah, suatu tradisi menginjak tanah untuk pertama kali bagi anak-anak.

Selain itu, masjid yang memiliki tujuh pintu dan enam jendela ini juga dilengkapi dengan beberapa bangunan penunjang, seperti tempat wudhu, rumah sotoh, dan balai tempat melakukan musyawarah. Bangunan tempat mengambil air wudu berada di sebelah kanan dan kiri masjid. Sedangkan rumah sotoh dan balai tempat pertemuan berada di bagian kanan dan kiri halaman depan masjid. Balai-balai yang bentuknya menyerupai rumah panggung tak berdinding ini dulu digunakan sebagai tempat untuk menunggu waktu shalat dan berbuka puasa pada bulan Ramadhan. Sedangkan rumah sotoh—bangunan dengan gaya arsitektur menyerupai rumah di Arab namun beratap genting ini, sebelumnya merupakan tempat untuk bermusyawarah dan mempelajari ilmu agama. Beberapa ulama terkenal Riau pada masa itu, seperti Syekh Ahmad Jabrati, Syekh Arsyad Banjar, Syekh Ismail, dan Haji Shahabuddin pernah mengajarkan ilmu agama di tempat ini.

Untuk mencapai Masjid Raya Sultan Riau di Pulau Penyengat, pengunjung harus menaiki perahu motor yang dermaganya berada di Pelabuhan Sri Bintan Pura, Kota Tanjung Pinang. Perahu motor berkapasitas 13 orang yang bentuknya seperti bangunan rumah adat Melayu itu akan membawa pengunjung melintasi laut selama kurang lebih 15 menit, dengan ongkos perjalanan Rp 5.000 (Juli 2008). Namun, ongkos perahu motor tersebut menjadi berlipat-lipat bagi rute sebaliknya, yaitu dari Pulau Penyengat menuju Pelabuhan Sri Bintan Pura. Jika malam belum tiba, ongkos balik tersebut berada pada kisaran antara Rp 10.000—15.000. Namun, jika malam sudah menjelang, ongkosnya bisa naik mencapai 100 persen, yaitu sekitar Rp 30.000 sekali jalan.

Masjid Raya Sultan Riau dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas seperti tempat wudu yang cukup luas, ruang informasi, rumah sotoh tempat para pengunjung melepas lelah, dan dua balai yang dapat digunakan sebagai tempat pertemuan. Setahun sekali, biasanya pada bulan Ramadhan, pengurus masjid mengadakan kegiatan bimbingan penulisan kreatif dan latihan membacakan syair termasyhur Raja Ali Haji, Gurindam Duabelas. Bagi pengunjung yang tertarik mengikuti kegiatan tersebut, dapat mengunjungi masjid ini ketika bulan Ramadhan tiba.

Di Pulau Penyengat, pelancong juga dapat menjumpai cukup banyak rumah makan yang menjajakan masakan khas Melayu dan rumah penginapan yang dikelola penduduk setempat. Namun, bagi pelancong yang menghendaki fasilitas dan sarana akomodasi yang lebih lengkap, tempat terdekat adalah Kota Tanjung Pinang. Di kota kecil ini, pengunjung dapat menjumpai hotel dan restoran yang lebih representatif. Selain itu, di kota ini juga terdapat pusat perbelanjaan, mal, pusat kebugaran dan salon kecantikan, pompa besin, dan lain-lain.

Lomba Perahu Naga ( Tanjung Pinang )

Kota Tanjung Pinang sebagai Ibu Kota Kepulauan Riau menyimpan segudang pesona wisata, mulai dari wisata budaya, sejarah, dan bahari. Salah satu warisan bahari yang masih bertahan adalah Lomba Perahu Naga yang oleh masyarakat setempat dikenal juga dengan “Tanjung Pinang Dragon Boat Race”. Lomba Perahu Naga diadakan di Pantai Tanjung Pinang, Kota Tanjung Pinang, Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia.

Sejarah masuknya tradisi Perahu Naga ke kota ini tidak lepas dari pengaruh interaksi antara Kerajaan Melayu dengan kerajaan dan pedagang Tiongkok. Pada zaman dahulu, Kerajaan Melayu memiliki hubungan yang erat dengan kerajaan Tiongkok (Cina), seperti hubungan diplomatik, perdagangan, dan pendidikan. Hal ini tidak terlepas dari sikap masyarakat Melayu yang ramah dan siap menerima siapa saja seperti saudara sendiri. Dalam proses interaksi tersebut, terjadi pembauran budaya antara masyarakat pendatang dengan masyarakat setempat. Sebagai penghargaan masyarakat pendatang terhadap tuan rumah, maka mereka memperkenalkan lomba perahu khas masyarakat Tiongkok yang disebut juga dengan Lomba Perahu Naga. Seiring dengan penjajahan yang dilakukan oleh Belanda ke Kerajaan Melayu terutama di Pulau Penyengat semenjak akhir abad 19 hingga awal abad 20, membuat kegiatan ini terhenti dalam waktu yang cukup lama.  

Tepat pada tahun 1992, Pemerintah Daerah Kota Tanjung Pinang kembali mengangkat kegiatan Lomba Perahu Naga yang sudah lama tenggelam. Pada awal pelaksanaannya, Lomba Perahu Naga hanya diperuntukkan bagi masyarakat di Provinsi Riau (sebelum pemekaran wilayah Provinsi Kepulauan Riau). Hal ini dilakukan, mengingat, masih minimnya atlet yang dimiliki daerah tersebut serta minimnya sponsorship dan promosi. Tetapi, tidak berselang lama kegiatan Lomba Perahu Naga yang diadakan di Tanjung Pinang diperlombakan untuk tingkat nasional dengan diikuti atlet-atlet dari berbagai provinsi di Indonesia dan negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, dan negara-negara Eropa, yaitu Inggris dan Ceko.  


Pada perkembangannya, kegiatan ini selalu dilaksanakan sebagai salah satu aset budaya bahari untuk menarik minat wisatawan berkunjung ke Kota Tanjung Pinang. Kegiatan yang berlangsung setiap pertengahan bulan November ini, semenjak tahun 2002 ditetapkan sebagai salah satu event tahunan Pemerintah Kota Tanjung Pinang, Provinsi Kepulauan Riau. 


Lomba Perahu Naga yang diadakan di Pantai Tanjung Pinang ini tergolong istimewa. Para peserta yang akan terjun dalam perlombaan, tidak diperkenankan membawa perlengkapan perlombaan sendiri, seperti perahu, alat dayung, dan perlengkapan lain. Peralatan yang dipakai dalam perlombaan sepenuhnya menjadi tanggung jawab panitia. Hal ini mengingat, Perahu Naga yang akan dipakai pada lomba menggunakan Perahu Naga khas masyarakat Tanjung Pinang yang secara bentuk dan struktur sedikit berbeda dengan perahu-perahu yang dipakai dalam perlombaan Perahu Naga lainnya. Ukuran perahu tersebut terdiri dari panjang sekitar 12 meter, lebar 1 meter, dan bobot seberat 300 kg. Jumlah personel dalam satu tim berjumlah 15 (lima belas) orang, dengan komposisi 12 (dua belas) orang bertugas sebagai pendayung, 1 (satu) orang sebagai tekong/pengemudi, dan 2 (dua) orang untuk cadangan.  

Berbeda dengan lomba perahu naga lainnya, rute untuk mencapai garis finis dalam perlombaan Perahu Naga Tanjung Pinang juga cukup unik. Para peserta harus mengayuh perahu sejauh 300 m kemudian berbalik kembali menempuh lintasan yang sama hingga garis finis persis di tempat start semula. Sehingga, para peserta lomba menempuh jarak sekitar 600 m untuk menjadi yang tercepat. Masing-masing peserta Lomba Perahu Naga harus menempuh rute dalam lintasan yang dibuat selebar 6 m untuk 4 Perahu Naga.  


Guna menyemarakkan lomba ini, sejak tahun 2002 hingga sekarang diadakan beberapa lomba tambahan, seperti lomba kayak/kano, lomba renang dengan rute Pantai Tanjung Pinang dan Pantai Pulau Penyengat, lomba menyelam, lomba kayuh sampan tradisional, lomba sampan layar tradisional, dan lomba jong (kapal replika).


Untuk menuju lokasi perlombaan, perjalanan dapat ditempuh dengan menggunakan mobil pribadi atau angkutan kota. Jika mengggunakan angkutan kota, perjalanan dimulai dari Bandar Udara Raja Haji Fisabilillah di Kota Tanjung Pinang menuju Pantai Tanjung Pinang yang berjarak sekitar 5 km dengan waktu tempuh sekitar 15 menit.


Perlombaan ini biasanya disemarakkan dengan bazar aneka makanan dan kerajinan tangan khas Melayu. Para wistawan dapat membeli berbagai suvenir khas Melayu atau menikmati berbagai masakan khas Melayu pada kios-kios bazar yang ada di sekitar arena perlombaan.  

Berhubung perlombaan yang diadakan di Tanjung Pinang berlangsung dalam bebarapa hari, maka wisatawan yang butuh penginapan dapat memanfaatkan hotel yang terdapat di kota tersebut. Pilihan hotel pun bermacam-macam, mulai dari kelas melati hingga yang berbintang.