Tampilkan postingan dengan label Provinsi Kepulauan Riau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Provinsi Kepulauan Riau. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Desember 2015

Provinsi Kepulauan Riau



Kepulauan Riau adalah sebuah provinsi di Indonesia. Provinsi Kepulauan Riau berbatasan dengan Vietnam dan Kamboja di sebelah utara; Malaysia dan provinsi Kalimantan Barat di timur; provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Jambi di selatan; Negara Singapura, Malaysia dan provinsi Riau di sebelah barat. Provinsi ini termasuk provinsi kepulauan di Indonesia.  Secara keseluruhan wilayah Kepulauan Riau terdiri dari 4 kabupaten, dan 2 kota, 47 kecamatan serta 274 kelurahan/desa dengan jumlah 2.408 pulau besar, dan kecil yang 30% belum bernama, dan berpenduduk. Adapun luas wilayahnya sebesar 252.601 km², sekitar 95% merupakan lautan, dan hanya sekitar 5% daratan.

Asal Usul Nama
Asal usul nama Kepulauan Riau berasal dari nama Riau. Riau diduga berasal kata "riuh" yang berarti ramai. Hal ini dikarenakan daerah Kepulauan Riau dahulunya merupakan pusat perdagangan dan keramaian. Lalu nama ini berkembang dengan digunakannya nama Riau pada nama Kesultanan Lingga. Pada masa kolonial, kata Riau diubah menjadi Riouw.

Setelah proklamasi kemerdekaan, wilayah Riau (Kepulauan Riau saat ini) disatukan dengan wilayah Kesultanan Siak di daratan Sumatera. Dahulunya, hal ini dilakukan karena gerakan Ganyang Malaysia sehingga mempermudah hubungan dari wilayah kepulauan ke daratan Sumatera.

Namun, seiring berjalannya waktu, nama Riau digunakan oleh wilayah Kesultanan Siak di daratan Sumatera, sementara Kepulauan Riau memekarkan diri. Kata kepulauan ditambahkan didepan kata Riau karna wilayah yang sebagian besar lautan atau berbentuk kepulauan.

Asal usul nama Riau juga menuai polemik di antara budayawan Riau dan Kepulauan Riau. Kedua kubu ini menilai bahwa nama Riau berasal dari provinsinya masing-masing dengan versi sejarah yang berbeda.

Sejarah
Sejarah Sebelum Pembentukan Provinsi
Masa sejarah di Kepulauan Riau dimulai dengan ditemukannya Prasasti Pasir Panjang di Karimun yang terdapat semboyan pemujaan melalui tapak kaki Buddha. Hal ini diduga berhubungan dengan Kerajaan Melayu di Sumatera. Buddha diperkiran masuk melalui pedagang dari Tiongkok dan India.

Masa Islam di Kepulauan Riau berkembang dengan berdirinya Kesultanan Riau-Lingga. Kesultanan ini berazaskan Melayu Islam dan Islam sendiri dikenal setelah dibawa oleh pedagang dari Gujarat, India, dan Arab.

Masa Kolonial sangat berpengaruh dalam sejarah Kepulauan Riau. Julukan Hawaii Van Lingga yang diberikan kepada pulau Penuba, penggunaan uang tersendiri bagi Kepulauan Riau, dan terbentuknya Karesidenan Riouw menjadi bukti pengaruh kuat para kolonial di Kepulauan Riau.

Setelah masa kemerdekaan, Kepulauan Riau bergabung dengan wilayah Kesultanan Siak di daratan Sumatera sehingga membentuk provinsi Riau. Dahulunya, Kepulauan Riau juga menggunakan mata uang tersendiri bernama Uang Kepulauan Riau (KR). Namun secara perlahan, penggunaan mata uang ini dihentikan dan digantikan dengan mata uang Rupiah.

Setelah lama bergabung dengan Riau, Kepulauan Riau akhirnya memutuskan untuk memisahkan diri dengan membentuk Badan Perjuangan Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau (BP3KR). Perjuangan BP3KR akhirnya membuahkan hasil dengan pemekaran provinsi Kepulauan Riau dari Riau pada tanggal 24 September 2002.

Sejarah Setelah Pembentukan Provinsi
Kepulauan Riau merupakan provinsi baru hasil pemekaran dari provinsi Riau. Provinsi Kepulauan Riau terbentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 25 tahun 2002 merupakan provinsi ke-32 di Indonesia yang mencakup Kota Tanjungpinang, Kota Batam, Kabupaten Bintan, Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten Kepulauan Anambas dan Kabupaten Lingga.

Geografi
Secara geografis provinsi Kepulauan Riau berbatasan dengan negara tetangga, yaitu Singapura, Malaysia, dan Vietnam yang memiliki luas wilayah 251.810,71 km² dengan 96 persennya adalah perairan dengan 1.350 pulau besar, dan kecil telah menunjukkan kemajuan dalam penyelenggaraan kegiatan pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan. Ibukota provinsi Kepulauan Riau berkedudukan di Tanjungpinang. Provinsi ini terletak pada jalur lalu lintas transportasi laut, dan udara yang strategis, dan terpadat pada tingkat internasional serta pada bibir pasar dunia yang memiliki peluang pasar.

Titik tertinggi di Kepulauan Riau adalah Gunung Daik (1.165 mdpl) yang terdapat di pulau Lingga.

Sumber Daya Alam
Kepri memiliki potensi sumber daya alam mineral, dan energi yang relatif cukup besar, dan bervariasi baik berupa bahan galian A (strategis) seperti minyak bumi, dan gas alam, bahan galian B (vital) seperti timah, bauksit, dan pasir besi, maupun bahan galian golongan C seperti granit, pasir, dan kuarsa.

Pariwisata
Provinsi Kepulauan Riau merupakan gerbang wisata dari mancanegara kedua setelah Pulau Bali. Jumlah wisatawan asing yang datang berkunjung mencapai 1,5 juta orang pada tahun 2005. Objek wisata di provinsi Kepulauan Riau antara lain adalah wisata pantai yang terletak di berbagai kabupaten, dan kota. Pantai Melur, Pulau Abang dan Pantai Nongsa di kota Batam, Pantai Pelawan di kabupaten Karimun, Pantai Lagoi, Pantai Tanjung Berakit, Pantai Trikora, dan Bintan Leisure Park di kabupaten Bintan. Kabupaten Natuna terkenal dengan wisata baharinya seperti snorkeling.

Selain wisata pantai dan bahari, provinsi Kepulauan Riau juga memiliki objek wisata lainnya seperti cagar budaya, makam-makam bersejarah, tarian-tarian tradisional serta event-event khas daerah. Di kota Tanjungpinang terdapat pulau Penyengat sebagai pulau bersejarah karena di pulau ini terdapat masjid bersejarah, dan makam-makam Raja Haji Fisabililah dan Raja Ali Haji yang kedua-duanya adalah pahlawan nasional.

Kawasan wisata di Kepulauan Riau juga mendapat banyak penghargaan. Treasure Bay di Lagoi, Bintan merupakan kolam renang air asin terbesar di Asia Tenggara, Patung Dewi Kwan Im di KTM Resort yang tertinggi se-Asia Tenggara, Vihara Avalokitesvara Graha yang terbesar se-Asia Tenggara, Patung Dewi Kwan Im di dalam Vihara Avalokitesvara Graha merupakan patung Dewi Kwan Im terbesar yang terdapat dalam sebuah ruangan se-Indonesia, Pulau Bawah di Anambas yang termasuk pulau tropis terbaik Asia versi CNN, Pantai Sisi di Natuna yang termasuk pantai alami terbaik di dunia versi majalah Island, dan Funtasy Island yang merupakan kawasan agrowisata terbesar di dunia.

Suku Bangsa
Suku bangsa yang terdapat di Provinsi Kepulauan Riau adalah Melayu, Bugis, Jawa, Orang Laut, Arab, India, Tionghoa, Minangkabau, Batak, Banjar, Sunda, Palembang, Aceh, Jambi, Dayak, dan Flores.

Bahasa
Bahasa yang dipakai adalah bahasa resmi yaitu Bahasa Indonesia dan ada juga yang menggunakan bahasa Melayu.

Bahasa Melayu Riau mempunyai sejarah yang cukup panjang, karena pada dasarnya Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu.

Pada zaman Kerajaan Sriwijaya, Bahasa Melayu sudah menjadi bahasa internasional Lingua franca di kepulauan Nusantara, atau sekurang-kurangnya sebagai bahasa perdagangan di Kepulauan Nusantara. Bahasa Melayu, semenjak pusat kerajaan berada di Malaka kemudian pindah ke Johor, akhirnya pindah ke Riau mendapat predikat pula sesuai dengan nama pusat kerajaan Melayu itu. Karena itu bahasa Melayu zaman Melaka terkenal dengan Melayu Melaka, bahasa Melayu zaman Johor terkenal dengan Melayu Johor, dan bahasa Melayu zaman Riau terkenal dengan bahasa Melayu Riau.

Pada zaman dahulu ada beberapa alasan yang menyebabkan Bahasa Melayu menjadi bahasa resmi digunakan, yaitu:
  1. Bahasa Melayu Riau secara historis berasal dari perkembangan Bahasa Melayu semenjak berabad-abad yang lalu. Bahasa Melayu sudah tersebar keseluruh Nusantara, sehingga sudah dipahami oleh masyarakat, bahasa ini sudah lama menjadi bahasa antar suku di Nusantara. 
  2. Bahasa Melayu Riau sudah dibina sedemikian rupa oleh Raja Ali Haji dan kawan-kawannya, sehingga bahasa ini sudah menjadi standar. 
  3. Bahasa Melayu Riau sudah banyak publikasi, berupa buku-buku sastra, buku-buku sejarah, dan agama baik dari zaman Melayu klasik maupun dari yang baru.

Pemandian Tengku Ampuan Zahara

Adalah tempat pemandian putri Diraja Sultan Mahmud Muhazam Syah, Engku Embong Fatimah istri Yamtuan Muda Muhammad Yusuf Bunda dari Sultan Lingga yang terakhir Sultan Abdul Rahman Mu’ahan Syah Sultan Lingga yang ke 6 dan istrinya Engku Ampuan Zahara.

Air Terjun Temurun ( Anambas )

Air Terjun Temurun atau Air Terjun Temburun merupakan air terjun yang unik yangterletak di Desa Batu Belah, Pulau Siantan, sebelah Timur Kota Tarempa, Kabupaten Anambas, Provinsi Kepulauan Riau. Nama air terjun ini sama persis dengan nama air terjun di negeri jiran Malaysia.

Air Terjun Temurun merupakan salah satu objek wisata favorit di Kabupaten Anambas selain Pulau Temawan, Pantai Padang MelangPantai Pasir Manag dan Pulau Durai serta lokasi-lokasi tak bernama lainnya yang memiliki panorama alam yang benar-benar alami.

Dikatakan unik karena air terjun ini memiliki 7 tingkatan yang bermuara pada Selat Peniting. Di muara itu terdapat ekosistem mangrove yang sebagian besar terdiri dari bakau (Rizophora), dengan substrat lumpur. Air terjun ini berasal dari sungai Baruk yang berada pada ketinggian 250 mdpl. Air terjun ini sendiri memiliki ketinggian 100 meter dari tingkat paling bawah ke tingkat paling atas.

Air Terjun Cik Latif

Objek wisata Air Terjun Cikk Latif yang merupakan salah satu lokasi yang dipromosikan ke calon pengunjung terbengkalai.

Lokasi wisata yang terletak di Desa Sungai Harapan, Singkep Barat tidak mendapat perhatian serius dari pemerintah. Dengan begitu, aset Pemkab Lingga yang tidak terurus dan terkesan terlantar ini sepi pengunjung.

Menyusuri  lokasi wisata air terjun yang biasa di sebut warga lokal Daerah Kolong Batu terasa jauh. Jalan yang masih tanah bekas jalan perusahaan tambang pasir tempo dulu dengan kondisi tak terurus, berlubang dan becek saat musim hujan. Dam kondisi ini menjadi salah satu penyebab orang tidak mau untuk berkunjung ke daerah wisata ini. Hanya Beberapa pekerja kebun karet dan pencari timah yang selalu memanfaatkan jalan yang menuju lokasi wisata Air Terjun Cik Latif sampai kini.

Air Terjun Resun ( Lingga )

Air terjun Resun terletak di Daik, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau. Airnya berasal dari sungai-sungai yang mengairi Gunung Daik dan banyak dikunjungi wisatawan lokal saat hari libur. Kawasan Gunung Daik (1165 mdpl) dengan tiga cabang pun sebenarnya bisa menjadi tujuan pendakian. Selain Gunung Daik dan air terjun Resun, ada juga tempat pemandian putri Sultan Mahmud Muhazam Syah, Batu Babi dan Batu Buaya (karena berbentuk mirip seperti babi dan buaya), Batu Belah, pemandian Lubuk Papan dan air terjun Cik Latif.

Pulau Abang ( Kepulauan Riau )


Pulau abang adalah salah satu objek wisata yang saat ini diprioritaskan oleh pemerintah kota batam, dengan visinya "Visit Batam 2020". Daya tarik tempat wisata pulau abang ini adalah terumbu karang dan berbagai flora dan faunanya.  

Konon pulau abang di kepri ini adalah bunaken nya sumatera, sebab pulau ini memiliki keindahan bawah laut yang mirip dengan bunaken, dengan kekayaan flora dan faunanya.









Wisata Sungai Sebong ( Bintan )

Pulau Bintan tidak hanya terkenal dengan kawasan pantainya yang elok, tetapi juga terkenal dengan keindahan dan keaslian lingkungan alamnya. Keaslian kawasan hutan bakau menjadi salah satu ciri khas Pulau Bintan. Hutan bakau di Pulau Bintan yang masih kaya akan flora dan fauna ini pernah dinobatkan sebagai obyek wisata ekologi terbaik dengan meraih penghargaan bergengsi, yaitu PATA Gold Award 2003. Salah satu kawasan di Pulau Bintan dengan kualitas hutan bakau yang masih bagus ada di sepanjang Sungai Sebong. Dengan potensi yang dimilikinya, Pemerintah Kabupaten Bintan menetapkan kawasan ini sebagai bagian dari obyek-obyek wisata andalan di Kabupaten Bintan. Daya tarik kawasan wisata ini kian bertambah setelah beberapa tahun belakangan masyarakat setempat memanfaatkannya sebagai lokasi untuk wisata memancing. Wisatawan akan disuguhi bagaimana nelayan setempat memeragakan kebolehannya dalam menangkap ikan. Untuk menarik perhatian para wisatawan, nelayan setempat sengaja tidak menggunakan perlengkapan modern, melainkan memilih menggunakan alat-alat penangkap ikan tradisonal.

Kegiatan wisata ini sangat sederhana. Nelayan setempat hanya membawa wisatawan mengarungi Sungai Sebong dengan menggunakan sampan (perahu tradisional) sembari dia memeragakan keahliannya dalam menangkap ikan. Di Sungai yang tenang dan dikelilingi oleh hutan bakau ini, wisatawan juga dapat menyaksikan aneka satwa menari-nari lincah di pohon-pohon bakau menunjukkan ketangkasannya seakan-akan tak mau kalah dengan kecekatan para nelayan dalam menangkap ikan.

Berwisata di Sungai Sebong melihat para nelayan setempat menangkap ikan sungguh merupakan pemandangan yang menarik. Wisatawan akan disuguhi beberapa teknik menangkap ikan dengan menggunakan alat-alat tradisional, seperti tangkul, bubu, dan jala. Tangkul merupakan jaring lebar berukuran sekitar 10 x 8 m yang digunakan khusus untuk menangkap ikan belanak. Tangkul biasanya dioperasikan minimal dua orang. Nelayan harus menunggu ikan melewati tangkul ini, kemudian setelah ada tanda-tanda bahwa ikan belanak telah terjebak di dalamnya, maka seketika para nelayan akan menarik tangkul secara serentak. Biasanya, kegiatan‘nangkul‘ ini dapat memakan waktu 6 sampai 8 jam, tergantung seberapa sering ikan melewati jaring raksasa ini.

Masih di lokasi yang sama, wisatawan juga dapat melihat cara lain menangkap ikan dengan menggunakan bubu dan jala. Bubu adalah perangkap ikan yang terbuat dari kayu nipah, sebuah alat yang biasanya digunakan untuk menangkap Kepiting Bakau. Sedangkan jala digunakan para nelayan untuk menangkap udang. Setelah satu-persatu teknik menangkap ikan selesai diperagakan, para nelayan biasanya menawari dan mengajak wisatawan untuk mencoba memeragakan teknik-teknik menangkap ikan tersebut.

Perjalanan wisata yang biasanya berdurasi 2,5 jam ini juga akan mengantarkan wisatawan menyisir pemandangan alam sepanjang Sungai Sebong yang memiliki kekayaan flora dan fauna mengagumkan. Selama perjalanan, wisatawan dapat menyaksikan aneka jenis pohon bakau, kera, burung bangau, ular, biawak, burung “Raja Udang”, yang masih banyak berkeliaran di kawasan ini. Kekhasan lainnya dari Sungai Sebong ini adalah adanya pohon yang oleh masyarakat setempat disebut pohon kacang-kacang, pohon yang daunnya menjadi makanan kunang-kunang, sejenis serangga yang badannya mengeluarkan sinar pada malam hari. Jika wisatawan tertarik untuk menyaksikan kunang-kunang ini, maka trip malam hari dapat menjadi pilihan. Melalui pemandu wisata yang menyertai perjalanan, wisatawan akan diajak mengenali lebih detail setiap informasi yang terkait dengan ekosistem hutan bakau yang ada di Sungai Sebong ini.

Di akhir perjalanan wisata, wisatawan akan disuguhi makanan khas daerah Bintan, seperti Mie Lendir dan Siput Gonggong. Sembari menikmati makanan, wisatawan akan dihibur oleh penari lokal dengan tarian tradisional Melayu. Wisatawan juga dipersilakan untuk ikut menari bersama bagi mereka yang tertarik. Sebelum pulang, wisatawan akan diajak singgah di sebuah kelong atau bangunan khas nelayan Melayu, yang di dalamnya terdapat beberapa outlet yang menawarkan souvenir khas Bintan buatan para ibu-ibu setempat.

Satu hal lagi yang membuat perjalanan wisata di Sungai Sebong ini terasa istimewa adalah mekanisme pelayanan pariwisata yang telah tersusun secara rapi. Masing-masing anggota masyarakat yang terlibat bekerja sesuai dengan peran dan bidang keahliannya masing-masing. Nelayan bertugas mendayung sampan dan melakukan atraksi menangkap ikan, pemandu bertugas memandu acara dengan baik, penari menampilkan tarian Melayu, dan ibu-ibu bertugas membuat makanan dan benda-benda kerajinan. Mereka yang terlibat dalam kegiatan wisata ini menerima pendapatan sesuai dengan perannya masing-masing, yang nominalnya telah ditentukan secara bersama.

Untuk menuju Pulau Bintan, wisatawan biasanya harus transit terlebih dahulu di Pulau Batam, karena Batam telah menjadi semacam pintu masuk menuju Pulau Bintan. Akses menuju Batam terbilang mudah, karena Batam memiliki Bandara Udara Internasional Hang Nadim yang setiap hari terdapat rute penerbangan dari kota-kota besar di Indonesia maupun dari luar negeri. Jika wisatawan menggunakan jalur laut, banyak rute menggunakan kapal ferry menuju Batam, terutama dari kota-kota di Sumatra, seperti dari Pekanbaru, Dumai, Pulau Karimun, Pulau Natuna, Palembang, dan Kuala Tungkal di Jambi. Dari negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia, akses menuju Batam malah jauh lebih mudah, karena cukup naik kapal ferry satu kali.


Dari kota Batam, perjalanan ke Bintan terlebih dahulu harus melewati pelabuhan penyeberangan Telaga Punggur, menggunakan taksi dengan biaya antara Rp 60.000—Rp 65.000. Sesampainya di Pelabuhan Telaga Punggur, pengunjung dapat menyeberang ke Pulau Bintan dengan menggunakan kapal ferry menuju Pelabuhan Sri Bintan Pura di Kota Tanjung Pinang, kota yang ditetapkan sebagai Ibu Kota Propinsi Kepulauan Riau. Sarana angkutan penyeberangan Telaga Punggur—Sri Bintan Pura beroperasi setiap hari, mulai dari jam 7.30 pagi hingga jam 8 malam, begitu juga sebaliknya. Wisatawan dapat memilih menggunakan ferry yang berukuran agak besar, atau memilih menggunakan speed boat yang berukuran lebih kecil. Pengelola jasa transportasi ini juga fleksibel dalam menentukan tarif. Pengunjung dapat membeli tiket untuk sekali jalan sebesar Rp 35.000 per orang, atau sekaligus tiket pergi-pulang sebesar Rp 60.000 (November 2008).

Selain itu, tiket yang sudah dibeli juga berlaku kapan saja, asalkan masih dalam tenggat waktu yang sudah ditentukan, yaitu satu bulan. Sesampainya di Tanjung Pinang, perjalanan sekitar 2 jam menuju Desa Sebong Lagoi, Kecamatan Teluk Sebong, dapat ditempuh dengan menggunakan taksi, mobil sewaan, atau jasa travel.

Di sekitar kawasan obyek wisata Sungai Sebong terdapat fasilitas-fasilitas seperti rumah penginapan yang dikelola penduduk setempat, warung makan, berbagai outlet yang menjual benda-benda kerajinan, sarana peribadatan, warung telekomunikasi, dan sebagainya.

Posisi obyek wisata Sungai Sebong yang menjadi salah satu bagian dari kawasan wisata terpadu Bintan Resort juga membuat obyek wisata ini dikelilingi fasilitas-fasilitas yang terbilang modern dan mewah, seperti hotel berbintang, bar, diskotik, salon kecantikan dan spa, serta beberapa lapangan golf.

Tanjung Uma ( Batam )

Kelurahan Tanjung Uma, merupakan wilayah nelayan pertama dan tertua di Kota Batam. Kelurahan yang berhadapan langsung dengan Singapura ini memiliki lanskap khas masyarakat nelayan. Rumah-rumah kayu, alat-alat penangkap ikan yang terjejer di sekitar rumah serta  pompong (perahu tradisonal) yang sedang merapat bisa ditemui disetiap sudut Tanjung Uma. Deretan rumah kayu tersebut, berjajar acak di atas birunya air laut. Oleh Pemerintah Kota Batam, keberadaan pemukiman nelayan di Tanjung Uma masuk dalam kategori cagar budaya. Sebab sebelum adanya pengembangan Otorita Batam, kampung-kampung nelayan tersebut sudah terlebih dahulu ada. Masyarakat Batam biasa menyebut kampung-kampung nelayan tersebut dengan sebutan kampung tua. Di banding dengan wilayah lain, kelurahan Tanjung Uma termasuk wilayah yang paling banyak memiliki kampung tua. Oleh karena itu pemerintah Kota Batam menganggap Tanjung Uma memiliki komunitas penduduk asli terbesar. Kampung-kampung tua ini terus dinventarisasi keberadaannya agar terhindar dari penggusuran rencana pengembangan Otorita Batam.

Dari data BPS Kota Batam tahun 2007 warga Tanjung Uma berjumlah sekitar 12 ribu jiwa yang berasal dari berbagai pelosok di Indonesia. Ada beberapa etnis budaya yang saat ini menetap di Pulau tersebut. Antara lain Melayu, Bugis, Jawa, Minang, dan Batak. Dari beberapa etnis tersebut, etnis Bugis berjumlah paling besar.

Warga Tanjung Uma hingga kini masih mewarisi budaya asli Batam dalam keseharian mereka. Kias pantun dan penggunaan logat Bahasa Melayu lazim ditemui disetiap sudut daerah ini. Keadaan ini tentu kontras bila dibandingkan dengan ikon Kota Batam yang modern. Kelurahan Tanjung Uma terbagi atas 40 Rukun Tetangga (RT) yang tergabung dalam sembilan Rukun Warga (RW). Adapun nama-nama kampungnya antara lain Kampung Agas, Tanjung Tritip, Tanjung Uma, Kampung Nelayan dan Taman Kota Mas. Di Tanjung Uma juga terdapat pasar tradisional yang menjadi pusat kegiatan ekonomi. Pasar tersebut berubah menjadi pusat keramaian tatkala bulan Ramadhan. Heterogenitas warga Tanjung Uma, menjadikan sajian kuliner Ramadhan di pasar tersebut sangat beragam. Mereperesentasikan ciri kuliner dari daerah asal para pedagang.  

Sebagai perkampungan nelayan pertama dan tertua di Batam, Tanjung Uma memiliki keistimewaan historis yang tidak didapatkan di kawasan lain di Kota Batam. Sebagian besar di antara mereka masih menjalankan budaya tutur sapa dengan menggunakan kias pantun. Bagi mereka pantun ibarat identitas, yang akan musnah bila tidak dilestarikan. Logat Melayu warga Tanjung Uma juga masih sangat kental dan dipergunakan sehari-hari tanpa terbatas asal daerah semua warganya. Alhasil jika selama ini Batam terkenal dengan modernitasnya, maka di Tanjung Uma wisatawan bisa menemukan kota Batam dalam versi tradisionalnya.

Selain keistimewaan kultural tersebut, panorama di daerah Kampung Nelayan juga acapkali dijadikan tempat favorit bagi wisatawan yang ingin mendapatkan latar fotografi  seputar aktivitas nelayan. Lalu-lalang pompong dengan background tiang-tiang penyangga rumah kayu, ditambah dengan birunya air laut adalah kombinasi harmonis yang dapat dibidik lensa kamera. Belum lagi keramahan warga saat bersapa dengan wisatawan, bisa melengkapi koleksi fotografi bertemakan human life.

Dari Pusat kota Nagoya, Tanjung Uma dapat diakses melalui jalur darat dengan menempuh sekitar 15 menit dengan menggunakan moda angkutan umum. Sedangkan untuk berkeliling di Tanjung Uma dengan menggunakan perahu pompong, tarif yang dikenakan sebesar 15 ribu/perahu.

Letak Tanjung Uma yang relatif dekat dengan pusat kota Nagoya, memudahkan wisatawan untuk mencari akomodasi berupa hotel, pengiinapan serta restoran.

Pulau penyengat ( Kepulauan Riau )

Pulau Penyengat merupakan pulau yang berjarak sekitar 6 km di seberang kota Tanjungpinang, Ibu Kota Kepulauan Riau. Pulau ini penuh makna bagi sejarah Kesultanan Riau-Lingga. Pada masa keemasannya, Kesultanan Riau-Lingga menjadikan Pulau Penyengat tidak hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi juga pusat kebudayaan dan keagamaan. Maka tak heran, jika hingga saat ini, peninggalan dari masa keemasan Kesultanan Riau masih dapat ditemui di pulau ini.

Konon, jauh sebelum menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga, pulau seluas 240 hektar ini sering dikunjungi para pelaut atau nelayan yang ingin mencari air bersih. Suatu ketika, saat seorang nelayan tengah mengambil air, tiba-tiba ia dikejar oleh sekelompok binatang sejenis lebah yang juga memiliki sengat. Sejak saat itu, binatang tersebut dikenal sebagai binatang penyengat, dan pulau ini pun disebut dengan Pulau Penyengat.

Dalam kisah yang diceritakan secara turun-temurun dalam masyarakat Melayu, Pulau Penyengat digambarkan sebagai mas kawin yang diberikan oleh Sultan Mahmud Marhum Besar, Sultan Riau periode 1761—1812 M, kepada Engku Putri Raja Hamidah, putri dari Raja Haji Fisabilillah.

Memasuki dermaga di Pulau Penyengat, pengunjung langsung dapat melihat Masjid Raya Sultan Riau. Dari masjid inilah, pengunjung dapat memulai perjalanan wisatanya di Pulau Penyengat. Masjid tua ini, dibangun pada tahun 1832 M, atas prakarsa Yang Dipertuan Muda VII, Raja Abdul Rahman. Di masjid ini, tersimpan ratusan naskah kuno beraksara arab dan beberapa Alquran tulisan tangan. Sayang, beberapa di antara naskah-naskah kuno tersebut sudah dalam kondisi hancur, karena udara lembab. Selain itu, masjid yang memiliki perpaduan gaya arsitektur khas Melayu, Arab, dan India ini memiliki cerita unik dalam sejarah pembangunannya. Konon, bangunan ini menggunakan putih telur sebagai bahan perekat konstruksinya.

Selepas melihat-lihat masjid yang kaya dengan nilai sejarah ini, pengunjung bisa beranjak dan mengunjungi lokasi wisata lain di pulau ini, seperti berziarah ke makam-makam tokoh Kerajaan Riau-Lingga. Di antaranya adalah makam Engku Putri Raja Hamidah dan makam Raja Ali Haji. Di sepanjang dinding bangunan makam Raja Ali Haji, diabadikan karya besarnya: Gurindam Dua Belas.

Salah satu peninggalan sejarah yang juga dapat dikunjungi adalah Balai Adat. Balai Adat ini digunakan sebagai tempat penyimpanan perkakas-perkakas milik raja dan tuan putri dari Kerajaan Riau-Lingga. Bangunan dengan arsitektur Melayu ini, kini digunakan masyarakat setempat untuk melangsungkan rapat dan juga acara pernikahan. Di bawah kolong bangunan ini, terdapat air sumur yang memiliki mata air jernih. Sumur yang debit airnya tidak pernah berkurang ini, diyakini berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit dan mengentengkan jodoh.

Selain menikmati bangunan-bangunan di atas, pengunjung masih bisa meneruskan perjalanan ke Benteng Bukit Kursi. Benteng ini dibangun pada tahun 1782—1784 M, semasa pemerintahan Raja Ali Haji, dan dimaksudkan sebagai benteng pertahanan, ketika melawan tentara Belanda. Letak benteng yang berada di lereng bukit dan menghadap ke laut, membuat pengunjung dapat menikmati dua hal sekaligus: peninggalan bersejarah dan juga panorama laut yang begitu cantik dari sisi lereng bukit ini.

Untuk bisa mencapai Pulau Penyengat, pengunjung dapat menaiki perahu motor kecil yang dikenal dengan sebutan pompong, dari Pelabuhan Sri Bintan Pura, Kota Tanjung Pinang. Untuk menaiki pompong ini, penumpang dikenakan biaya Rp 5.000,00 per orang. Atau jika ingin menyewa, biaya yang dikenakan sebesar Rp 50.000,00 per pompong (Agustus 2008).

Di Pulau Penyengat, tidak terdapat hotel ataupun penginapan. Pengunjung yang ingin tinggal lebih lama dapat menginap di rumah-rumah penduduk, bahkan untuk jangka waktu hingga sebulan. Di pulau ini, pengunjung tidak akan menemukan mobil ataupun kendaraan sejenisnya. Jadi, untuk mengelilingi pulau, pengunjung dapat menggunakan jasa becak motor (bemor) yang bisa ditumpangi dua orang. Dengan mengeluarkan uang sewa sebesar Rp 20.000,00 per jam, pengunjung dapat mengelilingi pulau ini, dengan rute yang telah ditentukan pengemudi bemor. Tak hanya itu, pengemudi bemor pun dapat menjadi pemandu yang bisa menceritakan sejarah tempat-tempat yang dikunjungi. Jika mempunyai waktu yang cukup panjang, wisatawan dapat berjalanan kaki untuk menjelajahi pulau kecil ini.

Pantai Trikora ( Bintan )

Berkunjung ke Bintan, Propinsi Kepulauan Riau terasa kurang lengkap sebelum melihat keindahan panorama alam Pantai Trikora. Pantai yang mempunyai panjang kurang lebih 25 km ini memiliki panorama alam yang indah, baik kawasan daratnya maupun kondisi dasar lautnya.


Pantai ini merupakan salah satu obyek wisata kebanggaan Pemerintah Kabupaten Bintan. Untuk meningkatkan kunjungan wisatawan, Pemerintah Kabupaten Bintan bertekad akan terus mengembangkan kawasan wisata ini menjadi obyek wisata berkelas dunia seperti Pantai Kuta di Pulau Bali atau Pantai Lagoi yang terletak satu kabupaten dengan pantai ini.


Menurut cerita masyarakat setempat, nama Trikora ini terkait dengan kunjungan seorang bule ke pantai ini puluhan tahun yang lalu. Sewaktu bule itu berkunjung, kondisi pantai ini masih sepi dan belum banyak orang yang menghuninya. Karena bule itu merasa belum mengenal daerah yang ia kunjungi, maka kemudian ia bertanya kepada seorang warga yang kebetulan ia temui dengan sebuah pertanyaan yang di dalamnya terdapat kata “three Corrals”. Karena merasa bahasa yang diucapkan bule itu tidak dipahaminya, maka pertanyaan yang disampaikan bule itu tidak dijawabnya. Dengan rasa penasaran terhadap kata “three Corrals”, warga tersebut kemudian menyebarkan kata itu ke seluruh warga lainnya. Selain itu, terdapat juga versi lain yang menyebutkan bahwa nama Pantai Trikora ini dihubungkan dengan peristiwa konfrontasi Indonesia dengan Malaysia tahun 1961 yang dilatarbelakangi oleh ketidaksetujuan Indonesia dengan rencana penggabungan antara Brunei, Sabah, dan Sarawak oleh kolonial Inggris. Oleh sebab itu, bagi sebagian orang, nama Pantai Trikora dianggap memiliki semangat nasionalisme.

Keistimewaan Pantai Trikora terletak pada hamparan pasir putihnya yang luas dan landai, sehingga pelancong dapat bermain, berjemur, maupun olahraga seperti sepakbola, lari-lari, jalan santai, dan lain-lain. Di tempat ini, pelancong juga dapat berenang atau sekedar berendam menikmati terpaan gelombang air laut yang pelan dan jernih. Keindahan alam lainnya tampak pada banyaknya pohon kelapa yang berjajar rapi di sepanjang tepian pantai. Terdapat juga batu-batu besar yang teronggok di tepian hingga menjorok ke laut yang turut menambah suasana indah di Pantai Trikora. Dari atas batu-batu ini, pelancong dapat duduk-duduk bersantai menikmati deburan ombak yang saling berkejaran atau melihat perahu nelayan yang berlalu-lalang di kejauhan.

Di pantai ini, pelancong juga dapat melihat berbagai macam tumbuhan dan binatang laut berukuran kecil-kecil yang berada di pinggiran pantai. Jika wisatawan ingin melihat keanekaragaman hayati yang terdapat di dalamnya, dapat menyelam menyusuri dasar laut untuk melihat karang-karang yang cantik, tumbuhan-tumbuhan laut, berbagai macam ikan laut, dan berbagai bentuk kerang laut. Pelancong tak perlu khawatir dengan kegelapan selama menyelam karena sinar matahari dapat menembus sampai ke dasar laut. Para pelancong juga diperbolehkan membawa pulang kerang cantik yang ditemuinya selama menyelam itu.

Setelah puas menikmati keindahan dasar lautnya, pelancong dapat berkunjung ke pulau-pulau kecil yang berada di tengah laut atau sekitar puluhan meter dari pantai ini. Di pulau-pulau kecil ini, pelancong dapat melihat berbagai macam binatang seperti kera, ular piton, burung, dan satwa-satwa lainnya. Namun, bagi wisatawan yang ingin melanjutkan perjalanan wisatanya, dapat menuju Rumah Kelong, tempat untuk menangkap ikan teri yang terbuat dari kayu dan beratapkan daun rumbia. Dari Rumah Kelong ini, pelancong dapat melihat nelayan yang sedang mencari ikan teri dari dekat. Untuk menuju kedua lokasi itu, pelancong dapat menyewa perahu-perahu nelayan yang berada di Pantai Trikora ini.


Obyek wisata Pantai Trikora terletak di Desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan, Propinsi Kepulauan Riau, Indonesia.


Untuk menuju lokasi obyek wisata Pantai Trikora ini perjalanan dapat dimulai dari Kota Tanjung Pinang dengan menggunakan mobil sewaan, taksi, travel, atau naik ojek, karena di daerah ini masih jarang terdapat kendaraan umum (bus) yang dapat mengantarkan pelancong sampai ke lokasi wisata. Jika pelancong naik taksi dari Kota Tanjung Pinang, untuk sampai ke lokasi obyek wisata Pantai Trikora ini akan membutuhkan waktu sekitar 1 jam perjalanan, dengan tarif kurang lebih Rp 30.000. Namun, jika wisatawan naik ojek dari Tanjung Pinang sampai ke lokasi wisata itu, maka tarif yang harus dikeluarkan pelancong sekitar Rp 60.000 per orang (Desember 2008).

Fasilitas yang terdapat di kawasan obyek wisata ini ialah tempat bersantai (pondok-pondok kecil yang terbuat dari bambu), hotel, kolam renang, kolam pemancingan, lapangan tenis, restoran seafood, dan kedai-kedai yang menjajakan kelapa muda. Selain itu, terdapat juga pedagang makanan khas Kabupaten Bintan yaitu otak-otak. Otak-otak ialah masakan yang terbuat dari ikan laut yang dibungkus dengan daun rumbia. Untuk mendapatkan masakan ini.

Pantai Selat Baru ( Bengkalis )

Pantai Selat Baru merupakan pantai terindah kedua di Bengkalis setelah Pantai Rupat Utara. Nama Pantai Selat Baru sendiri diambil dari nama desa dimana pantai ini berada, Desa Selat Baru, yang juga menjadi Ibukota Kecamatan Bantan. Pemerintah Kabupaten Bengkalis telah menjadikan pantai tersebut sebagai salah satu objek wisata andalan. Terbukti di kawasan itu digelar pesta pantai setiap tahunnya. Pada event tersebut diadakan berbagai perlombaan, seperti lomba perahu jong, gasing, dan layang-layang. Pengunjung juga dapat menyaksikan berbagai atraksi kesenian dan budaya tradisional daerah setempat.

Pantai Selat Baru memiliki hamparan pantai yang landai dan berpasir halus sepanjang 2 kilometer dengan jarak sekitar 200 meter dari bibir pantai. Gelombang laut di pantai ini relatif stabil, tidak lebih dari 1 meter, kecuali pada musim angin utara. Dari tempat ini membias biru Gunung Ledang di negeri jiran, Malaysia. Konon, di gunung itulah Hang Tuah dan Hang Jebat berkelahi. Sambil menikmati desir angin dan riak gelombang laut dari Selat Malaka, kehadiran elang laut yang terbang sambil memangsa ikan di pinggir pantai, menjadi pemandangan menarik bagi pengunjung.

Bagi wisatawan yang berada di Kota Pekanbaru, Ibu Kota Provinsi Riau, dapat menuju Pantai Selat baru dengan naik kapal feri mengarungi Sungai Siak menuju Pelabuhan Bengkalis. Setibanya di Bengkalis, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan bus menuju Pantai Selat Baru. Pantai nan indah tersebut berjarak tujuh kilometer di sebelah utara Kota Bengkalis, Ibu Kota Kabupaten Bengkalis.

Di tempat ini pengunjung dapat melakukan berbagai kegiatan, seperti berjemur (sun burning) di pantai, berselancar (surfing), berperahu (boating), berenang (swimming), dan memancing (fishing). Kecuali itu, di kawasan tersebut juga dilengkapi dengan pelabuhan bertaraf internasional yang tinggal menunggu waktu pengoperasiannya dan kapal penyeberangan ferry (RO-RO) menuju Sungai Pakning, yang menghubungkannya dengan Riau Daratan dan kota-kota lain di Sumatera. Rencananya Pemerintah Kabupaten Bengkalis juga akan membangun bandar udara, sehingga memudahkan pengunjung datang ke sana.

Pantai Nongsa ( Batam )

Kota Batam menyandang image sebagai kota industrial, mulai dari garmen, elektronik, sampai galangan kapal. Ia juga menjadi kota pusat belanja murah, seperti barang-barang elektronik, hingga sebutan sebagai kota ‘ruli‘ (rumah liar) akibat tingginya arus migrasi dari berbagai daerah di Nusantara untuk mencari pekerjaan di kota ini. Namun, pada kenyataanya Kota Batam memiliki kawasan wisata alam yang layak diperhitungkan keberadaannya. Yakni, sebuah pantai yang terletak di bagian timur laut Pulau Batam. Pantai Nongsa namanya.
Kawasan wisata pantai ini terletak di Kelurahan Sambu, Kecamatan Batam Timur, Kota Batam, Kepulauan Riau, Indonesia.

Pantai Nongsa merupakan salah satu potensi wisata alam yang mampu menyedot wisatawan domestik maupun mancanegara untuk datang ke Kota Batam. Karena, pantai yang terletak di bagian timur laut Pulau Batam ini memadukan keindahan pantai dengan nuansa kota modern.


Nama ‘nongsa‘ diadopsi dari nama seorang tokoh Melayu yang pertama kali mengembangkan wilayah pesisir ini, dari lahan kosong dan tidak terurus dengan balutan semak-belukar berupa pohon bakau dan perdu menjadi kawasan yang memiliki nilai jual. Oleh masyarakat setempat, kawasan ini dijuluki sebagai wilayah Nongsa Tua.

Dari pantai ini, pesisir pantai Singapura bagian selatan bisa dicapai hanya dengan setengah jam berperahu motor. Dekatnya jarak ini menyebabkan masyarakat desa di sana pada tahun 1970an hingga 1980an lebih mengenal mata uang dolar Singapura atau ringgit Malaysia ketimbang rupiah.  Pada periode itu, para nelayan di wilayah Nongsa menjual ikannya, seperti ikan kerapu, selar, dan ikan-ikan karang lainnya, langsung ke Singapura. Selain menjual ikan, mereka juga biasa menjajakan kayu dari hutan-hutan di Pulau Batam yang kala itu wajah pulau ini masih berupa hutan bakau yang menjadi habitat berang-berang, pelbagai burung rawa, serta elang laut putih.

Kini, Pantai Nongsa Tua telah menjelma sebagai kawasan rekreasi yang prestisius. Tempat ini juga merupakan sebuah kawasan yang selalu diperebutkan oleh para investor untuk membangun resort. Tak jarang penduduk lokal hanya bisa melihat resort eksklusif yang tak terjangkau harganya. Sebagai masyarakat nelayan yang menjadikan laut sebagai penopang hidupnya, penduduk lokal kini tidak lagi bisa bebas berlayar. Pengelola resort kerap melarang mereka membangun bagang di sekitar pantai karena dianggap membahayakan kapal-kapal pesiar atau kapal wisata yang akan berlabuh di salah satu resort yang ada.

Biasanya orang mengungkapkan kekagumannya, kesannya, pada pantai yang dikunjungi tidak jauh dari apa yang ‘dimiliki‘ pantai itu. Misalnya hal-hal lumrah seperti kondisi air pantai yang tenang atau berombak besar, warna air lautnya, pasirnya yang putih, terumbu karang sebagai rumah ribuan biota laut, dan seterusnya. Dari semua itu, Pantai Nongsa punya hal lain dan unik yang tidak banyak dimiliki sebagian besar pantai di Indonesia, yakni pemandangan kota Singapura pada malam hari.

Pantai ini menghadap ke barat laut, karena itu Anda akan disuguhi pemandangan matahari terbenam yang memukau di kala senja. Saat senja, pudarnya mega di ufuk barat mengiringi kepergian sang surya, sementara di sebelah utara Anda akan menyaksikan gemerlap lampu-lampu gedung di Singapura mulai menyala mengganti peran matahari. Singapura malam hari menampilkan kerlap-kerlip dan kilau ribuan lampu kota megapolitan a la New York khas Asia Tenggara, di mana tampak gedung-gedung hunian dan perkantoran pencakar langit masa kini. Moment ini jangan pernah terlewat bila mengunjungi Pantai Nongsa.

Lebih dari itu, mengunjungi Pantai Nongsa akan terasa natural karena lingkungannya terjaga dengan baik. Bagi pengunjung yang ingin berenang di resiknya air laut, maupun ber-snorkeling menyaksikan panorama bawah laut, ada baiknya lebih berhati-hati karena di tempat ini belum ada penjaga pantai yang memantau wisatawan. Terutama bagi para orang tua yang membawa putra-putrinya untuk bermain air.

Selain keindahan pantai dan laut, serta nuansa metropolis Singapura yang dapat Anda nikmati sepuasnya, ada baiknya Anda mengunjungi masyarakat lokal di kawasan ini yang sebagian besar merupakan warga asli Melayu.

Di sini, Anda dapat mengunjungi permukiman penduduk yang terdapat di sepanjang pesisir pantai di Teluk Tering, yakni Kampung Batu Besar dan Kampung Nongsa. Mayoritas dari mereka bermata pencaharian sebagai nelayan, sebagian yang lain berprofesi sebagai pedagang di kawasan sekitar pantai. Menyaksikan dan mengikuti aktivitas keseharian mereka yang barangkali berbeda jauh dari kehidupan rutin Anda, tentunya merupakan sebuah pengalaman yang mengasyikkan.

Kawasan ini makin istimewa karena wisatawan mudah menjangkau tempat wisata unggulan lainnya di Provinsi Kepulauan Riau, seperti Pantai Sekilak dan Pantai Maimun yang juga tidak kalah cantiknya dengan Pantai Nongsa, Pulau Penyengat, Pulau Lingga, Jembatan Barelang, Kamp Pengungsian Vietnam di Pulau Galang, serta pusat-pusat perbelanjaan di Kota Batam, seperti kawasan Nagoya yang hanya memerlukan waktu 20 menit perjalanan.

Untuk sampai di Pantai Nongsa, wisatawan dapat menggunakan taksi yang ‘berkeliaran‘ di sekitar Kota Batam. Dengan taksi, wisatawan membutuhkan waktu lebih-kurang 40 menit dengan tarif Rp75.000,- dari pusat Kota Batam (November 2008).

Bila dari Bandara Hang Nadim, Kota Batam, kurang lebih akan memakan waktu 25 menit dengan mobil atau sepeda motor sewaan. Untuk menuju Pantai Nongsa dari bandar udara ini, pengunjung disarankan melalui Jalan Hang Tuah ke arah timur, hingga bertemu pertigaan jalan. Kemudian belok kiri (ke arah utara), melewati Jalan Hang Jebat sampai di pertigaan jalan kedua. Di persimpangan ini, pengunjung harus belok kiri untuk kali kedua dan lewat Jalan Hang Lekiu yang langsung menuju Pantai Nongsa dengan waktu tempuh 10 sampai 15 menit. Alangkah lebih baik menanyakan arah dan jalan pada warga sekitar agar tidak tersesat. Karena, ada kemungkinan arah dan jalan di sekeliling pantai akan terasa membingungkan untuk kunjungan kali pertama.

Selain itu, bagi wisatawan yang tengah berada di Singapura, dapat menggunakan kapal ferry dari pelabuhan Tanah Merah, Singapura. Kapal ferry ini akan berlabuh di Terminal Ferry Nongsa (ferry port Nongsa).

Pantai Nongsa secara sengaja telah disiapkan oleh Pemerintah Otorita Batam sebagai kawasan wisata yang representatif bagi siapa saja yang mengunjunginya. Karena itu, Anda tidak akan kesulitan menemukan hotel dengan berbagai kelas, pusat-pusat lapangan golf, resort berkelas internasional, persewaan perlengakapan olahraga air, kemudahan mengakses transportasi umum (taksi), rumah sakit, ATM (anjungan tunai mandiri), toilet, dan lain sebagainya.

Selain itu, jangan pernah lewatkan menyantap makanan khas laut Kepulauan Riau di restoran-restoran sea food di Batu Besar, Nongsa. Rumah makan di Batu Besar ini, biasanya dijadikan rujukan wisatawan yang mengunjungi Pantai Nongsa. Begitu juga dengan keberadaan kedai-kedai yang menjajakan kelapa muda dan minuman menyegarkan lainnya.

Aktivitas wisata Anda akan semakin komplit ketika singgah di pusat kerajinan tangan yang ada di sekitar Pantai Nongsa. Di sini, beragam cenderamata khas Melayu Kepulauan Riau dapat dibeli untuk pribadi, kerabat, maupun kolega.

Pantai Lagoi ( Bintan )

Pantai Lagoi merupakan salah satu obyek wisata kebanggaan Pemerintah Kabupaten Bintan, Propinsi Kepulauan Riau. Pantai Lagoi terletak di Kecamatan Bintan Utara, Kabupaten Bintan, Propinsi Kepulauan Riau, Indonesia. Obyek wisata berkelas dunia ini memiliki pemandangan alam yang indah dan kondisi lingkungan yang bersih. Pohon kelapa yang berjajar rapi di sepanjang tepian pantai juga menjadi salah satu daya tarik kawasan wisata Pantai Lagoi. Di samping keindahan alamnya, keramahan penduduk setempat juga menjadi keistimewaan tersendiri, sehingga mampu memikat para pelancong yang berkunjung ke kawasan wisata ini.

Keberadaan obyek wisata Pantai Lagoi didukung pula dengan keindahan alam lainnya yang tak kalah menarik, yaitu Sungai Sebong, Hutan Mangrove, dan berbagai macam resort. Berbagai tempat tersebut masing-masing menawarkan panorama alam yang indah beserta keistimewaan-keistimewaannya.

Mengunjungi Pantai Lagoi Anda dapat menyaksikan deburan ombak sambil melakukan aktivitas-aktivitas seperti mandi, berenang, berendam, atau menyelam menyusuri keindahan dasar lautnya. Setelah puas menikmati aktivitas di air ini, pelancong dapat berjemur di atas hamparan pasir putihnya yang luas dan landai, sembari menikmati hangatnya sinar matahari. Anda juga dapat berjalan-jalan santai menyusuri keindahan pesisir pantai sambil menghirup udaranya yang sejuk.

Setelah puas menikmati panorama alam tersebut, pelancong juga dapat menikmati keindahan dan kenyamaan resort-resort yang berada ratusan meter dari pantai ini. Di resort ini, pelancong dapat bermain golf, berenang di kolam renang, menikmati spa, melihat keindahan wahana laut, dan melakukan aktivitas seperti diving, snorkeling, dan lain-lain.

Pelancong juga dapat melanjutkan berwisata menyusuri keindahan Sungai Sebong dengan menyewa perahu nelayan. Selama perjalanan, pelancong dapat melihat indahnya berbagai macam tumbuhan mangrove. Pemandangan menarik lainnya adalah berbagai macam tumbuhan yang tumbuh subur di pinggiran sungai seperti rhizophora, bakau, pandan, dan pohon nipah yang tergolong langka. Dari atas perahu itu, pelancong juga dapat melihat hewan-hewan liar yang hidup di pinggiran Sungai Sebong.

Bagi pelancong yang gemar memancing, dapat mengunjungi gubuk-gubuk kecil milik nelayan yang berada di muara Sungai Sebong. Gubuk-gubuk kecil yang terbuat dari pohon bakau dan beratapkan daun nipah ini, biasanya digunakan untuk menangkap ikan bilis dan cumi-cumi.

Keistimewaan Hutan Mangrove di Sungai Sebong yaitu kondisi airnya terbagi menjadi tiga jenis: air asin, air payau, dan air tawar. Dari kawasan ini, wisatawan dapat melihat berbagai spesies tumbuhan yang hidup di dalamnya. Di daerah air asin misalnya, pelancong dapat melihat jenis spesies rhizophora. Di zona air payau terdapat tumbuhan dengan jenis bruguiera. Sementara pada daerah air tawar terdapat tumbuhan jenis xylocarpus.

Untuk menuju Pantai Lagoi, perjalanan dapat dimulai dari Tanjung Pinang dengan menggunakan mobil sewaan, taksi, atau travel. Dari kota Tanjung Pinang sampai ke lokasi wisata biasanya akan dibutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Bagi wisatawan dari Batam, perjalanan dapat dimulai dari pelabuhan penyeberangan Telaga Punggur. Dari pelabuhan ini, pelancong dapat naik speed boat menuju Tanjung Uban dengan ongkos sekitar Rp 30.000 per orang. Setelah sampai di Tanjung Uban, kemudian pelancong naik taksi menuju Pantai Lagoi. Perjalanan dari Tanjung Uban sampai ke lokasi wisata membutuhkan waktu sekitar 15—25 menit. Selain speed boat, wisatawan juga dapat naik kapal ferry dari Telaga Punggur menuju ke Lagoi. Kapal ferry menuju Lagoi beroperasi sebanyak 3 kali setiap hari (Desember 2008).

Demi kenyamanan para pelancong, di kawasan wisata pantai ini terdapat berbagai macam fasilitas seperti hotel, mulai dari kelas melati sampai kelas berbintang, villa, restoran, kios suvenir, kamar mandi/kamar bilas, area parkir yang cukup luas, tempat persewaan alat pancing, dan lain-lain. Selain itu terdapat juga kios yang menjajakan masakan khas Bintan yaitu gonggong dan otak-otak. Gonggong adalah siput laut yang dimasak mirip sate. Sedangkan otak-otak merupakan ikan laut yang dimasak dengan cara dibungkus daun rumbia.

Masjid Sultan Riau ( Pulau Penyengat )

Masjid Raya Sultan Riau adalah salah satu obyek wisata sejarah termasyhur yang berada di Pulau Penyengat, Propinsi Kepulauan Riau. Masjid ini mulai dibangun ketika pulau ini dijadikan sebagai tempat tinggal Engku Puteri Raja Hamidah, istri penguasa Riau waktu itu, Sultan Mahmudsyah (1761—1812 M). Pada awalnya, masjid ini hanya berupa bangunan kayu sederhana berlantai batu bata yang hanya dilengkapi dengan sebuah menara setinggi kurang lebih 6 meter. Namun, seiring berjalannya waktu, masjid ini tidak lagi mampu menampung jumlah jamaah yang terus bertambah, sehingga Yang Dipertuan Muda Raja Abdurrahman —Sultan Kerajaan Riau pada 1831—1844 M— berinisiatif untuk memperbaiki dan memperbesar masjid tersebut.

Untuk membuat sebuah masjid yang besar, Sultan Abdurrahman menyeru kepada seluruh rakyatnya untuk beramal dan bergotong-royong di jalan Allah. Peristiwa bersejarah itu terjadi pada tanggal 1 Syawal 1248 H (1832 M), atau bertepatan dengan hari raya Idulfitri. Panggilan tersebut ternyata telah menggerakkan hati segenap warga untuk berkontribusi pada pembangunan masjid tersebut. Orang-orang dari seluruh pelosok teluk, ceruk, dan pulau di kawasan Riau Lingga berdatangan ke Pulau Penyengat untuk mengantarkan bahan bangunan, makanan dan tenaga, sebagai tanda cinta yang tulus kepada sang Pencipta dan sang sultan. Bahkan, kaum perempuan pun ikut serta dalam pembangunan masjid tersebut, sehingga proses pembangunannya selesai dalam waktu yang cepat. Terbukti, pondasi setinggi sekitar 3 meter dapat selesai hanya dalam waktu 3 minggu.

Konon, karena banyaknya bahan makanan yang disumbangkan penduduk, seperti beras, sayur, dan telur, para pekerja sampai merasa bosan makan telur, sehingga yang dimakan hanya kuning telurnya saja. Karena menyayangkan banyaknya putih telur yang terbuang, sang arsitek yang berkebangsaan India dari Tumasik (sekarang Singapura) punya ide untuk memanfaatkannya sebagai bahan bangunan. Sisa-sisa putih telur itu kemudian digunakan sebagai bahan perekat, dicampur dengan pasir dan kapur, sehingga membuat bangunan masjid dapat berdiri kokoh, bahkan hingga saat ini.  

Masjid dengan ketebalan dinding mencapai 50 cm ini adalah bangunan istimewa yang wajib dilindungi, karena merupakan satu-satunya peninggalan Kerajaan Riau-Lingga yang masih utuh. Luas keseluruhan kompleks masjid ini sekitar 54,4 x 32,2 meter. Bangunan induknya berukuran 29,3 x 19,5 meter, dan ditopang oleh empat tiang. Lantai bangunannya tersusun dari batu bata yang terbuat dari tanah liat. Di halaman masjid, terdapat dua buah rumah sotoh yang diperuntukkan bagi musafir dan tempat menyelenggarakan musyawarah. Selain itu, di halaman masjid juga terdapat dua balai, tempat menaruh makanan ketika ada kenduri dan untuk berbuka puasa ketika bulan Ramadhan tiba.

Dari Dermaga Panjang dan Pelabuhan Sri Bintan Pura, Kota Tanjung Pinang, bangunan Masjid Raya Sultan Riau yang berwarna kuning cerah terlihat mencolok di antara bangunan-bangunan lainnya di pulau kecil seluas 240 hektar itu. Tiga belas kubah dan empat menara masjid berujung runcing setinggi 18,9 meter yang dulu digunakan oleh muadzin untuk mengumandangkan panggilan shalat membuat bangunan itu tampak megah seperti istana-istana raja di India. Susunan kubahnya bervariasi, mengelompok dengan jumlah tiga dan empat kubah. Ketika kubah dan menara tersebut dijumlah, ia menunjuk pada angka 17. Hal ini dapat diartikan sebagai jumlah rekaat dalam shalat yang harus dilakukan oleh setiap umat Islam dalam sehari.  

Dilihat dari bentuk arsitekturnya, Masjid Sultan Riau di Penyengat ini sangat unik. Tidak diketahui secara persis gaya arsitektur mana yang diadopsi oleh masjid ini. Ada yang mengatakan, masjid ini bergaya India, karena tukang-tukang yang membuat bangunan utamanya adalah orang-orang India yang didatangkan dari Tumasik (Singapura). Namun, dilihat dari bentuk bangunan utama dan bagian-bagian yang mendukungnya, arsitektur masjid ini merupakan perpaduan dari berbagai gaya, yaitu Arab, India, dan Melayu. Dalam dua kali pameran masjid pada Festival Istiqlal di Jakarta tahun 1991 dan 1995, Masjid Sultan Riau ini ditetapkan sebagai masjid pertama di Indonesia yang memakai kubah di atapnya.  

Keistimewaan dan keunikan masjid ini juga dapat dilihat dari benda-benda yang terdapat di dalamnya. Di dekat pintu masuk utama, pengunjung dapat menjumpai mushaf Alquran tulisan tangan yang diletakkan di dalam peti kaca di depan pintu masuk. Mushaf ini ditulis oleh Abdurrahman Stambul pada tahun 1867 M. Ia adalah salah seorang putra Riau yang dikirim Kerajaan Riau-Lingga untuk menuntut ilmu di Istambul, Turki. Mushaf bergaya Istambul ini ditulis oleh penulisnya di sela-sela kegiatannya mengajar agama Islam di Pulau Penyengat.  Sebenarnya, masih ada satu lagi mushaf Alquran tulisan tangan yang terdapat di masjid ini, namun tidak diperlihatkan untuk umum. Usianya lebih tua dibanding mushaf yang satunya, karena dibuat pada tahun 1752 M. Di bingkai mushaf yang tidak diketahui siapa penulisnya ini terdapat tafsiran-tafsiran dari ayat-ayat Alquran. Hal ini mengindikasikan bahwa orang-orang Melayu tidak hanya menulis ulang mushaf, tetapi juga mencoba menerjemahkannya. Sayangnya, mushaf tersebut tidak dapat diperlihatkan kepada wisatawan lantaran kondisinya sudah rusak. Mushaf ini tersimpan bersama sekitar 300-an kitab di dalam dua lemari yang berada di sayap kanan depan masjid. Kita-kitab tersebut adalah sisa-sisa kitab yang dapat diselamatkan dari perpustakaan Kerajaan Riau-Lingga, saat terjadi eksodus besar-besaran masyarakat Riau ke Singapura dan Johor pada awal abad ke-20 karena kecamuk perang melawan penjajah Belanda.  


Benda lainnya yang menarik untuk dilihat adalah sebuah mimbar yang terbuat dari kayu jati. Mimbar ini khusus didatangkan dari Jepara, sebuah kota kecil di pesisir pantai utara yang terkenal dengan kerajinan ukirnya sejak lama. Sebenarnya ada dua mimbar yang dipesan waktu itu, yang satu adalah mimbar yang diletakkan di Masjid Sultan Riau ini, sedangkan yang satunya lagi, yang berukuran lebih kecil, diletakkan di masjid di daerah Daik. Di dekat mimbar Masjid Sultan Riau ini tersimpan sepiring pasir yang konon berasal dari tanah Mekkah al-Mukarramah, melengkapi benda-benda lainnya seperti permadani dari Turki dan lampu kristal. Pasir ini dibawa oleh Raja Ahmad Engku Haji Tua, bangsawan Riau pertama yang menunaikan ibadah haji, yaitu pada tahun 1820 M. Pasir tersebut biasa digunakan masyarakat setempat pada upacara jejak tanah, suatu tradisi menginjak tanah untuk pertama kali bagi anak-anak.

Selain itu, masjid yang memiliki tujuh pintu dan enam jendela ini juga dilengkapi dengan beberapa bangunan penunjang, seperti tempat wudhu, rumah sotoh, dan balai tempat melakukan musyawarah. Bangunan tempat mengambil air wudu berada di sebelah kanan dan kiri masjid. Sedangkan rumah sotoh dan balai tempat pertemuan berada di bagian kanan dan kiri halaman depan masjid. Balai-balai yang bentuknya menyerupai rumah panggung tak berdinding ini dulu digunakan sebagai tempat untuk menunggu waktu shalat dan berbuka puasa pada bulan Ramadhan. Sedangkan rumah sotoh—bangunan dengan gaya arsitektur menyerupai rumah di Arab namun beratap genting ini, sebelumnya merupakan tempat untuk bermusyawarah dan mempelajari ilmu agama. Beberapa ulama terkenal Riau pada masa itu, seperti Syekh Ahmad Jabrati, Syekh Arsyad Banjar, Syekh Ismail, dan Haji Shahabuddin pernah mengajarkan ilmu agama di tempat ini.

Untuk mencapai Masjid Raya Sultan Riau di Pulau Penyengat, pengunjung harus menaiki perahu motor yang dermaganya berada di Pelabuhan Sri Bintan Pura, Kota Tanjung Pinang. Perahu motor berkapasitas 13 orang yang bentuknya seperti bangunan rumah adat Melayu itu akan membawa pengunjung melintasi laut selama kurang lebih 15 menit, dengan ongkos perjalanan Rp 5.000 (Juli 2008). Namun, ongkos perahu motor tersebut menjadi berlipat-lipat bagi rute sebaliknya, yaitu dari Pulau Penyengat menuju Pelabuhan Sri Bintan Pura. Jika malam belum tiba, ongkos balik tersebut berada pada kisaran antara Rp 10.000—15.000. Namun, jika malam sudah menjelang, ongkosnya bisa naik mencapai 100 persen, yaitu sekitar Rp 30.000 sekali jalan.

Masjid Raya Sultan Riau dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas seperti tempat wudu yang cukup luas, ruang informasi, rumah sotoh tempat para pengunjung melepas lelah, dan dua balai yang dapat digunakan sebagai tempat pertemuan. Setahun sekali, biasanya pada bulan Ramadhan, pengurus masjid mengadakan kegiatan bimbingan penulisan kreatif dan latihan membacakan syair termasyhur Raja Ali Haji, Gurindam Duabelas. Bagi pengunjung yang tertarik mengikuti kegiatan tersebut, dapat mengunjungi masjid ini ketika bulan Ramadhan tiba.

Di Pulau Penyengat, pelancong juga dapat menjumpai cukup banyak rumah makan yang menjajakan masakan khas Melayu dan rumah penginapan yang dikelola penduduk setempat. Namun, bagi pelancong yang menghendaki fasilitas dan sarana akomodasi yang lebih lengkap, tempat terdekat adalah Kota Tanjung Pinang. Di kota kecil ini, pengunjung dapat menjumpai hotel dan restoran yang lebih representatif. Selain itu, di kota ini juga terdapat pusat perbelanjaan, mal, pusat kebugaran dan salon kecantikan, pompa besin, dan lain-lain.

Lomba Perahu Naga ( Tanjung Pinang )

Kota Tanjung Pinang sebagai Ibu Kota Kepulauan Riau menyimpan segudang pesona wisata, mulai dari wisata budaya, sejarah, dan bahari. Salah satu warisan bahari yang masih bertahan adalah Lomba Perahu Naga yang oleh masyarakat setempat dikenal juga dengan “Tanjung Pinang Dragon Boat Race”. Lomba Perahu Naga diadakan di Pantai Tanjung Pinang, Kota Tanjung Pinang, Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia.

Sejarah masuknya tradisi Perahu Naga ke kota ini tidak lepas dari pengaruh interaksi antara Kerajaan Melayu dengan kerajaan dan pedagang Tiongkok. Pada zaman dahulu, Kerajaan Melayu memiliki hubungan yang erat dengan kerajaan Tiongkok (Cina), seperti hubungan diplomatik, perdagangan, dan pendidikan. Hal ini tidak terlepas dari sikap masyarakat Melayu yang ramah dan siap menerima siapa saja seperti saudara sendiri. Dalam proses interaksi tersebut, terjadi pembauran budaya antara masyarakat pendatang dengan masyarakat setempat. Sebagai penghargaan masyarakat pendatang terhadap tuan rumah, maka mereka memperkenalkan lomba perahu khas masyarakat Tiongkok yang disebut juga dengan Lomba Perahu Naga. Seiring dengan penjajahan yang dilakukan oleh Belanda ke Kerajaan Melayu terutama di Pulau Penyengat semenjak akhir abad 19 hingga awal abad 20, membuat kegiatan ini terhenti dalam waktu yang cukup lama.  

Tepat pada tahun 1992, Pemerintah Daerah Kota Tanjung Pinang kembali mengangkat kegiatan Lomba Perahu Naga yang sudah lama tenggelam. Pada awal pelaksanaannya, Lomba Perahu Naga hanya diperuntukkan bagi masyarakat di Provinsi Riau (sebelum pemekaran wilayah Provinsi Kepulauan Riau). Hal ini dilakukan, mengingat, masih minimnya atlet yang dimiliki daerah tersebut serta minimnya sponsorship dan promosi. Tetapi, tidak berselang lama kegiatan Lomba Perahu Naga yang diadakan di Tanjung Pinang diperlombakan untuk tingkat nasional dengan diikuti atlet-atlet dari berbagai provinsi di Indonesia dan negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, dan negara-negara Eropa, yaitu Inggris dan Ceko.  


Pada perkembangannya, kegiatan ini selalu dilaksanakan sebagai salah satu aset budaya bahari untuk menarik minat wisatawan berkunjung ke Kota Tanjung Pinang. Kegiatan yang berlangsung setiap pertengahan bulan November ini, semenjak tahun 2002 ditetapkan sebagai salah satu event tahunan Pemerintah Kota Tanjung Pinang, Provinsi Kepulauan Riau. 


Lomba Perahu Naga yang diadakan di Pantai Tanjung Pinang ini tergolong istimewa. Para peserta yang akan terjun dalam perlombaan, tidak diperkenankan membawa perlengkapan perlombaan sendiri, seperti perahu, alat dayung, dan perlengkapan lain. Peralatan yang dipakai dalam perlombaan sepenuhnya menjadi tanggung jawab panitia. Hal ini mengingat, Perahu Naga yang akan dipakai pada lomba menggunakan Perahu Naga khas masyarakat Tanjung Pinang yang secara bentuk dan struktur sedikit berbeda dengan perahu-perahu yang dipakai dalam perlombaan Perahu Naga lainnya. Ukuran perahu tersebut terdiri dari panjang sekitar 12 meter, lebar 1 meter, dan bobot seberat 300 kg. Jumlah personel dalam satu tim berjumlah 15 (lima belas) orang, dengan komposisi 12 (dua belas) orang bertugas sebagai pendayung, 1 (satu) orang sebagai tekong/pengemudi, dan 2 (dua) orang untuk cadangan.  

Berbeda dengan lomba perahu naga lainnya, rute untuk mencapai garis finis dalam perlombaan Perahu Naga Tanjung Pinang juga cukup unik. Para peserta harus mengayuh perahu sejauh 300 m kemudian berbalik kembali menempuh lintasan yang sama hingga garis finis persis di tempat start semula. Sehingga, para peserta lomba menempuh jarak sekitar 600 m untuk menjadi yang tercepat. Masing-masing peserta Lomba Perahu Naga harus menempuh rute dalam lintasan yang dibuat selebar 6 m untuk 4 Perahu Naga.  


Guna menyemarakkan lomba ini, sejak tahun 2002 hingga sekarang diadakan beberapa lomba tambahan, seperti lomba kayak/kano, lomba renang dengan rute Pantai Tanjung Pinang dan Pantai Pulau Penyengat, lomba menyelam, lomba kayuh sampan tradisional, lomba sampan layar tradisional, dan lomba jong (kapal replika).


Untuk menuju lokasi perlombaan, perjalanan dapat ditempuh dengan menggunakan mobil pribadi atau angkutan kota. Jika mengggunakan angkutan kota, perjalanan dimulai dari Bandar Udara Raja Haji Fisabilillah di Kota Tanjung Pinang menuju Pantai Tanjung Pinang yang berjarak sekitar 5 km dengan waktu tempuh sekitar 15 menit.


Perlombaan ini biasanya disemarakkan dengan bazar aneka makanan dan kerajinan tangan khas Melayu. Para wistawan dapat membeli berbagai suvenir khas Melayu atau menikmati berbagai masakan khas Melayu pada kios-kios bazar yang ada di sekitar arena perlombaan.  

Berhubung perlombaan yang diadakan di Tanjung Pinang berlangsung dalam bebarapa hari, maka wisatawan yang butuh penginapan dapat memanfaatkan hotel yang terdapat di kota tersebut. Pilihan hotel pun bermacam-macam, mulai dari kelas melati hingga yang berbintang.

Gunung Daik ( Kepulauan Riau )

Bila Anda berkunjung ke Provinsi Kepulauan Riau, sempatkanlah bertamasya ke Kabupaten Lingga. Sebab, selain menyimpan situs-situs dan benda-benda bersejarah yang berusia ratusan tahun, kabupaten yang dijuluki Bunda Tanah Melayu ini juga memiliki berbagai destinasi wisata alam yang membuat para turis berdecak kagum tatkala melihatnya. Salah satunya adalah Gunung Daik. Secara administratif, Gunung Daik masuk dalam wilayah Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia.

Menyebut Gunung Daik, seseorang akan terkenang dengan sebuah pantun yang sangat familiar, terutama pada masyarakat rumpun Melayu: Pulau Pandan jauh di tengah/ Gunung Daik bercabang tiga/ Hancur badan dikandung tanah/ Budi baik dikenang juga. Cabang gunung yang paling tinggi disebut Gunung Daik, yang menengah dinamakan Gunung Pejantan atau Gunung Pinjam-pinjaman, dan yang paling rendah dinamakan Gunung Cindai Menangis.

Masyarakat setempat mempercayai, puncak Gunung Daik dihuni oleh mahkluk halus bernama bunian. Sedangkan para nelayan yang berada di sekitar gunung itu meyakini bahwa arwah nenek moyang mereka, yakni Datuk Kemuning dan istrinya, bersemayam di gunung tersebut. Konon, nama Lingga yang berasal dari akar kata Ling (naga) dan Ge (gigi), terilhami oleh bentuk puncak Gunung Daik yang mirip dengan gigi naga.  

Keberadaan gunung ini kian populer berkat sebuah pabrik sagu dari kabupaten tersebut yang menjadikan Gunung Daik sebagai merek dagangnya, yaitu Sagu Cap Gunung Daik. Merek tersebut merupakan jaminan sagu berkualitas, yang dari dahulu hingga sekarang banyak dikirim ke berbagai daerah, seperti Cirebon, Surabaya, dan kota-kota lainnya. Melalui merek tersebut, perlahan-lahan Gunung Daik ikut dikenal oleh masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia.

Penuh mistis, tapi eksotis. Menakutkan, namun memesona. Begitulah kira-kira kesan pelancong ketika mengunjungi Gunung Daik, gunung tertinggi di Provinsi Kepulauan Riau, yang memiliki ketinggian sekitar 1.165 meter di atas permukaan laut  (mdpl). Meskipun rute menuju gunung tersebut penuh tantangan, namun semuanya akan terbayarkan begitu memasuki kawasan hutannya yang berhawa sejuk. Kontur medan yang beragam dengan jalan setapak yang berliku-liku, mengakomodir keinginan wisatawan yang menyukai olahraga lintas alam, menyusuri lembah, memotret, berkemah, dan off road.

Sepanjang perjalanan, wisatawan akan terpesona melihat kawasan hutan yang masih perawan dengan aneka pohon besar dan kecil yang berdaun rimbun dan hijau. Di kawasan hutan ini dapat ditemukan dengan mudah berbagai jenis tumbuhan, seperti pohon cucuk atap, cantiqi, pakis hutan (diplazium esculentum/faco fem), getah merah (gutta perca/isonandra gutta), pohon aren (arenga pinnata merr), dan aneka jenis buah-buahan. Burung murai batu (copsychus malabaricus), beo (gracula religiosa), ular piton (python molurus), ular kobra (ophiophagus hannah) dan babi hutan (sus scrofa) adalah binatang-binatang langka yang masih dapat dijumpai di kawasan hutan Gunung Daik.

Sebelum sampai di kaki gunung, terdapat sebuah sungai kecil dan air terjun bernama Air Terjun Daik. Biasanya, kawasan air terjun ini digunakan oleh pelancong sebagai tempat beristirahat, selain Pos Gajeboh I dan Pos Gajeboh II. Suara gemericik air terjun yang jatuh di atas batu-batu kali, dapat mengobati rasa penat selama menempuh perjalanan. Untuk melepas gerah, pelancong juga memanfaatkan air terjun yang berair jernih ini untuk mencuci muka dan mandi.

Sesampainya di Kaki Puncak Daik, batas akhir perjalanan, pelancong akan terkesima melihat gunung nan eksotis dan penuh mistis tersebut. Biasanya, kawasan ini merupakan tempat favorit pelancong untuk berkemah. Pada sore hari, bila cuaca sedang cerah, pelancong akan berdecak kagum melihat matahari terbenam. Pada pagi hari, bila cuaca sedang cerah, pelancong juga akan terpesona melihat indahnya matahari terbit.


Bagi wisatawan yang berada di Kota Tanjung Pinang, Ibu Kota Provinsi Kepulauan Riau, dapat menuju Gunung Daik dengan naik kapal feri dari Pelabuhan Sri Bintan Pura, Tanjung Pinang, menuju Pelabuhan Mepar/Dabo, Pulau Singkep, dengan waktu tempuh sekitar 4 jam. Dari Pelabuhan Mepar, wisatawan dapat naik kapal kecil (pompong) sekitar 10 menit menuju Pelabuhan Daik, Pulau Lingga. Setelah sampai di Daik, Ibu Kota Kabupaten Lingga, perjalanan dilanjutkan dengan naik ojek menuju pintu gerbang Gunung Daik. Kemudian, wisatawan melanjutkan perjalanan menuju Gunung Daik dengan berjalan kaki. Perjalanan akan berakhir di Kaki Puncak Daik, yang oleh masyarakat setempat diberi nama Kandang Babi, yaitu sebuah lokasi yang berada di ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Puncak Gunung Daik sendiri tidak bisa didaki karena puncaknya terdiri dari bebatuan yang rapuh dan tebing yang curam.

Sebelum melakukan perjalanan menuju Gunung Daik, turis dianjurkan untuk melapor pada petugas dinas pariwisata setempat. Hal ini penting untuk memudahkan pemantauan dan koordinasi. Sebagai penunjuk jalan, turis dapat menggunakan jasa pemandu wisata (guide), baik dari dinas wisata setempat maupun masyarakat yang tinggal di sekitar gunung tersebut.

Turis disarankan untuk menyiapkan segala kebutuhan selama berada di kawasan wisata ini, seperti makanan, minuman, tenda, baju hangat, senter, korek api, dan lain sebagainya. Sebab, di sepanjang jalan menuju gunung penuh mistis tersebut tidak tersedia warung.

Sedangkan untuk akomodasi dan fasilitas yang lumayan lengkap, dapat diperoleh pelancong di Kota Daik. Di ibu kota Kabupaten Lingga ini terdapat pasar, toko kelontong, warung nasi, serta hotel dan wisma dengan berbagai tipe.