Jumat, 11 Desember 2015

Gunung Daik ( Kepulauan Riau )

Bila Anda berkunjung ke Provinsi Kepulauan Riau, sempatkanlah bertamasya ke Kabupaten Lingga. Sebab, selain menyimpan situs-situs dan benda-benda bersejarah yang berusia ratusan tahun, kabupaten yang dijuluki Bunda Tanah Melayu ini juga memiliki berbagai destinasi wisata alam yang membuat para turis berdecak kagum tatkala melihatnya. Salah satunya adalah Gunung Daik. Secara administratif, Gunung Daik masuk dalam wilayah Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia.

Menyebut Gunung Daik, seseorang akan terkenang dengan sebuah pantun yang sangat familiar, terutama pada masyarakat rumpun Melayu: Pulau Pandan jauh di tengah/ Gunung Daik bercabang tiga/ Hancur badan dikandung tanah/ Budi baik dikenang juga. Cabang gunung yang paling tinggi disebut Gunung Daik, yang menengah dinamakan Gunung Pejantan atau Gunung Pinjam-pinjaman, dan yang paling rendah dinamakan Gunung Cindai Menangis.

Masyarakat setempat mempercayai, puncak Gunung Daik dihuni oleh mahkluk halus bernama bunian. Sedangkan para nelayan yang berada di sekitar gunung itu meyakini bahwa arwah nenek moyang mereka, yakni Datuk Kemuning dan istrinya, bersemayam di gunung tersebut. Konon, nama Lingga yang berasal dari akar kata Ling (naga) dan Ge (gigi), terilhami oleh bentuk puncak Gunung Daik yang mirip dengan gigi naga.  

Keberadaan gunung ini kian populer berkat sebuah pabrik sagu dari kabupaten tersebut yang menjadikan Gunung Daik sebagai merek dagangnya, yaitu Sagu Cap Gunung Daik. Merek tersebut merupakan jaminan sagu berkualitas, yang dari dahulu hingga sekarang banyak dikirim ke berbagai daerah, seperti Cirebon, Surabaya, dan kota-kota lainnya. Melalui merek tersebut, perlahan-lahan Gunung Daik ikut dikenal oleh masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia.

Penuh mistis, tapi eksotis. Menakutkan, namun memesona. Begitulah kira-kira kesan pelancong ketika mengunjungi Gunung Daik, gunung tertinggi di Provinsi Kepulauan Riau, yang memiliki ketinggian sekitar 1.165 meter di atas permukaan laut  (mdpl). Meskipun rute menuju gunung tersebut penuh tantangan, namun semuanya akan terbayarkan begitu memasuki kawasan hutannya yang berhawa sejuk. Kontur medan yang beragam dengan jalan setapak yang berliku-liku, mengakomodir keinginan wisatawan yang menyukai olahraga lintas alam, menyusuri lembah, memotret, berkemah, dan off road.

Sepanjang perjalanan, wisatawan akan terpesona melihat kawasan hutan yang masih perawan dengan aneka pohon besar dan kecil yang berdaun rimbun dan hijau. Di kawasan hutan ini dapat ditemukan dengan mudah berbagai jenis tumbuhan, seperti pohon cucuk atap, cantiqi, pakis hutan (diplazium esculentum/faco fem), getah merah (gutta perca/isonandra gutta), pohon aren (arenga pinnata merr), dan aneka jenis buah-buahan. Burung murai batu (copsychus malabaricus), beo (gracula religiosa), ular piton (python molurus), ular kobra (ophiophagus hannah) dan babi hutan (sus scrofa) adalah binatang-binatang langka yang masih dapat dijumpai di kawasan hutan Gunung Daik.

Sebelum sampai di kaki gunung, terdapat sebuah sungai kecil dan air terjun bernama Air Terjun Daik. Biasanya, kawasan air terjun ini digunakan oleh pelancong sebagai tempat beristirahat, selain Pos Gajeboh I dan Pos Gajeboh II. Suara gemericik air terjun yang jatuh di atas batu-batu kali, dapat mengobati rasa penat selama menempuh perjalanan. Untuk melepas gerah, pelancong juga memanfaatkan air terjun yang berair jernih ini untuk mencuci muka dan mandi.

Sesampainya di Kaki Puncak Daik, batas akhir perjalanan, pelancong akan terkesima melihat gunung nan eksotis dan penuh mistis tersebut. Biasanya, kawasan ini merupakan tempat favorit pelancong untuk berkemah. Pada sore hari, bila cuaca sedang cerah, pelancong akan berdecak kagum melihat matahari terbenam. Pada pagi hari, bila cuaca sedang cerah, pelancong juga akan terpesona melihat indahnya matahari terbit.


Bagi wisatawan yang berada di Kota Tanjung Pinang, Ibu Kota Provinsi Kepulauan Riau, dapat menuju Gunung Daik dengan naik kapal feri dari Pelabuhan Sri Bintan Pura, Tanjung Pinang, menuju Pelabuhan Mepar/Dabo, Pulau Singkep, dengan waktu tempuh sekitar 4 jam. Dari Pelabuhan Mepar, wisatawan dapat naik kapal kecil (pompong) sekitar 10 menit menuju Pelabuhan Daik, Pulau Lingga. Setelah sampai di Daik, Ibu Kota Kabupaten Lingga, perjalanan dilanjutkan dengan naik ojek menuju pintu gerbang Gunung Daik. Kemudian, wisatawan melanjutkan perjalanan menuju Gunung Daik dengan berjalan kaki. Perjalanan akan berakhir di Kaki Puncak Daik, yang oleh masyarakat setempat diberi nama Kandang Babi, yaitu sebuah lokasi yang berada di ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Puncak Gunung Daik sendiri tidak bisa didaki karena puncaknya terdiri dari bebatuan yang rapuh dan tebing yang curam.

Sebelum melakukan perjalanan menuju Gunung Daik, turis dianjurkan untuk melapor pada petugas dinas pariwisata setempat. Hal ini penting untuk memudahkan pemantauan dan koordinasi. Sebagai penunjuk jalan, turis dapat menggunakan jasa pemandu wisata (guide), baik dari dinas wisata setempat maupun masyarakat yang tinggal di sekitar gunung tersebut.

Turis disarankan untuk menyiapkan segala kebutuhan selama berada di kawasan wisata ini, seperti makanan, minuman, tenda, baju hangat, senter, korek api, dan lain sebagainya. Sebab, di sepanjang jalan menuju gunung penuh mistis tersebut tidak tersedia warung.

Sedangkan untuk akomodasi dan fasilitas yang lumayan lengkap, dapat diperoleh pelancong di Kota Daik. Di ibu kota Kabupaten Lingga ini terdapat pasar, toko kelontong, warung nasi, serta hotel dan wisma dengan berbagai tipe.

Gunung Bintan ( Pulau Bintan )

Berwisata ke Pulau Bintan, Propinsi Kepulauan Riau terasa kurang lengkap sebelum menyambangi Gunung Bintan. Gunung Bintan terletak di Kampung Bekapur, Desa Bintan Buyu, Kecamatan Teluk Bintan, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, Indonesia.

Satu-satunya gunung yang berada di Pulau Bintan ini sebenarnya lebih mirip sebuah bukit, karena ketinggiannya hanya sekitar 400 m di atas permukaan laut. Ketinggian gunung ini mungkin tidak seberapa jika dibandingkan dengan gunung-gunung yang ada di Pulau Jawa, namun Gunung Bintan mempunyai peran penting bagi masyarakat setempat, yaitu sebagai daya tarik kunjungan wisata dan area resapan air (catchment area).  

Gunung yang terletak di tengah-tengah Pulau Bintan dan berjarak sekitar 55 km dari Kota Tanjung Pinang (Ibukota Propinsi Kepulauan Riau) ini juga merupakan kawasan hutan lindung yang di dalamnya terdapat ekosistem khas hutan hujan tropis yang masih terjaga keasliannya, baik aspek flora maupun faunanya.

Pengunjung akan mendapati banyak hal menarik selama mendaki gunung ini. Gunung yang puncaknya dapat dicapai hanya dalam waktu dua jam dengan berjalan kaki ini menyimpan keindahan panorama alam yang memesona. Dari puncak gunung, pengunjung dapat menikmati keindahan pemandangan di sekeliling Pulau Bintan.

Sebagai kawasan hutan hujan tropis, Gunung Bintan juga menyimpan kekayaan flora dan fauna yang khas. Pengunjung dapat melihat berbagai jenis tumbuhan tropis dan pohon-pohon raksasa yang berfungsi sebagai penyangga (buffer) kawasan hutan dari ancaman erosi. Di kawasan yang juga berfungsi sebagai area resapan ini juga hidup aneka satwa seperti monyet, tupai, ular, pelanduk, berbagai jenis burung, dan sebagainya. 

Setelah puas menyisir keindahan alam dari puncak gunung, pengunjung dapat melengkapi perjalanan wisatanya menuju sebuah air terjun yang terletak di kaki gunung. Tempat ini sering digunakan oleh para pengunjung sebagai tempat singgah setelah lelah menyusuri kawasan wisata ini. Tak jarang di antara mereka memanfaatkan air terjun ini sebagai tempat mandi karena kesejukannya dianggap dapat menghilangkan rasa lelah.

Kawasan di kaki gunung juga dimanfaatkan penduduk setempat sebagai lahan pertanian mereka. Di tempat ini banyak terdapat kebun buah penduduk, seperti durian, rambutan, manggis, duku, dan lain-lain. Jika wisatawan berkunjung tepat pada saat musim buah, wisatawan dapat membeli buah langsung dari petaninya, tentu saja dengan harga yang lebih murah. Selain itu, rasanya juga lebih enak dan segar karena langsung dipetik dari pohonnya.  

Bagi wisatawan yang tertarik dengan acara-acara khas pariwisata, sempatkanlah bertandang ke Gunung Bintan pada bulan Juli. Pada setiap bulan ini diselenggarakan acara tahunan yang bertajuk `Bintan Mountain Tracking and Durian Party`. Acara ini berupa perlombaan menyusuri jalan berundak menuju puncak gunung pada malam hari yang kemudian diakhiri dengan pesta makan durian dan ikan bakar. Acara yang telah dimasukkan ke dalam kalender wisata Pemerintah Kabupaten Bintan ini selalu berlangsung meriah, karena diikuti tidak hanya oleh wisatawan lokal, tetapi juga oleh turis mancanegara. 

Untuk menuju Pulau Bintan, wisatawan biasanya harus transit terlebih dahulu di Pulau Batam, karena Batam telah menjadi semacam pintu masuk menuju Pulau Bintan. Akses menuju Batam terbilang mudah, karena setiap hari terdapat rute penerbangan dari kota-kota besar di Indonesia menuju Batam. Dari negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia, akses menuju Batam malah lebih mudah, cukup naik kapal feri satu kali.  

Dari kota Batam, perjalanan ke Bintan terlebih dahulu harus melewati pelabuhan penyeberangan Telaga Punggur, menggunakan taksi dengan biaya antara Rp 60.000—Rp 65.000. Sesampainya di pelabuhan Telaga Punggur, pengunjung dapat menyeberang ke Pulau Bintan dengan menggunakan kapal feri menuju kota Tanjung Pinang, kota yang ditetapkan sebagai Ibu Kota Propinsi Kepulauan Riau. Sarana angkutan penyeberangan Telaga Punggur—Tanjung Pinang beroperasi setiap hari, mulai dari jam 7:30 pagi hingga jam 8 malam, begitu juga sebaliknya. Wisatawan dapat memilih menggunakan feri yang berukuran agak besar, atau memilih menggunakan speed boat yang berukuran lebih kecil. Pengelola jasa transportasi ini juga fleksibel dalam menentukan tarif. Pengunjung dapat membeli tiket untuk sekali jalan sebesar Rp 35.000 per orang, atau sekaligus tiket pergi-pulang sebesar Rp 60.000 (November 2008).  

Selain itu, tiket yang sudah dibeli juga berlaku kapan saja, asalkan masih dalam tenggat waktu yang sudah ditentukan, yaitu satu bulan.  Sesampainya di Tanjung Pinang, perjalanan sekitar 55 km menuju Gunung Bintan dapat ditempuh dengan menggunakan taksi atau mobil sewaan. Letak Gunung Bintan yang tepat di tengah-tengah Pulau Bintan, didukung dengan kondisi jalan yang sudah baik, membuat perjalanan menuju ke gunung ini terasa mudah.

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Riau telah melengkapi obyek wisata Gunung Bintan dengan beberapa fasilitas, seperti lahan parkir, jalan setapak menuju lokasi air terjun, tempat pemandian, warung makan, dan tempat peristirahatan. Namun, jika wisatawan membutuhkan fasilitas dan sarana akomodasi yang lebih lengkap, tempat terdekat untuk memperolehnya adalah di Kota Tanjung Pinang.  

Sebagai Ibukota Propinsi Kepulauan Riau, Tanjung Pinang menyediakan fasilitas-fasilitas seperti hotel (baik kelas melati maupun berbintang), pusat perbelanjaan, sarana perbankan, restoran, sarana peribadatan, biro perjalanan wisata, salon kecantikan, dan lain-lain.

Benteng Bukit Kursi ( Tanjung Pinang )

Benteng Bukit Kursi terletak di Pulau Penyengat, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjung Pinang, Kota Tanjung Pinang, Propinsi Kepulauan Riau, Indonesia. Benteng Bukit Kursi yang terdapat di Pulau Penyengat, merupakan salah satu bukti peninggalan sejarah Kerajaan Melayu dalam menjaga dan mempertahankan kedaulatan diri dari serangan musuh. Nama benteng tersebut diambil dari nama tempat di mana benteng itu dibangun, yaitu Bukit Kursi. Bukit Kursi merupakan lokasi yang cukup strategis untuk benteng pertahanan. Selain berada pada dataran tinggi di Pulau Penyengat, bukit ini juga langsung menghadap laut lepas.

Mengingat pentingnya peran Pulau Penyengat sebagai pusat pemerintahan, maka muncullah ide untuk membangun benteng pertahanan. Ide tersebut disetujui oleh Raja Haji Fisabillah yang saat itu menjabat sebagai Raja Kerajaan Melayu Riau. Sebuah benteng kemudian dibangun di Bukit Kursi dalam waktu 4 tahun atau sekitar tahun 1782—1784 M. Untuk menyempurnakan keberadaan benteng sebagai basis pertahanan kerajaan, maka didatangkan sebanyak 80 meriam dari Eropa yang dipasang di tiap-tiap sudut strategis untuk memudahkan para prajurit kerajaan menghalau tentara musuh.  

Berkat Benteng Bukit Kursi ini, istana dan bangunan kerajaan lainnya yang terdapat di dalam kompleks kerajaan bisa terhindar dari serangan musuh dalam waktu yang cukup lama. Bahkan, pernah tercatat dalam sejarah perjuangan Kerajaan Melayu Riau, benteng ini mampu menjadi perisai yang tangguh guna menghalau penjajah Belanda yang akan memasuki Pulau Penyengat. Butuh strategi yang matang dan waktu yang cukup lama bagi Pemerintah Kolonial Belanda menguasai basis kerajaan dan benteng pertahanan tersebut.

Desain bangunan benteng ini cukup menarik. Benteng pertahanan yang terletak di atas bukit ini dibangun dalam bentuk parit-parit. Desain ini dibuat untuk menghindari serangan musuh yang datang dalam jumlah besar serta memiliki persenjataan yang lengkap. Di samping itu, parit-parit tersebut juga berfungsi sebagai jalur untuk menyuplai bubuk mesiu bagi persenjataan meriam. Hingga saat ini, parit-parit tersebut masih membentang di Benteng Bukit Kursi. Parit-parit ini digali dengan kedalaman 1 m dan menghubungkan tiap-tiap lokasi meriam berdiri. Tetapi kondisi parit-parit tersebut, sekarang ini kurang terawat dan terkesan kumuh.

Di atas Benteng Bukit Kursi ini, terdapat beberapa peninggalan meriam kuno. Tetapi, jumlah meriam yang terdapat di bukit tersebut jauh berkurang dari jumlah semula yang berjumlah sekitar 90 meriam. Sebagian meriam-meriam tersebut, oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, dijual ke Singapura dengan harga yang cukup murah sebagai barang rongsokan. Sementara itu, sebagian lainnya hilang karena kurangnya pemeliharaan dan perawatan dari pemerintah daerah setempat.

Tak jauh dari Benteng Bukit Kursi, terdapat sebuah bangunan yang pada zaman dahulu dipergunakan untuk menyimpan bubuk mesiu. Oleh masyarakat setempat bangunan ini dinamakan Gedung Obat Bedil (gudang mesiu). Keberadaan gudang mesiu ini erat kaitannya dengan Benteng Bukit Kursi. Ketika pertempuran sedang berkecamuk, gudang ini menjadi penyuplai mesiu untuk senjata meriam guna menghalau musuh. Gedung Obat Bedil hingga sekarang masih berdiri kokoh walau telah berusia cukup lama.

Untuk menuju Benteng Bukit Kursi, para wisatawan mesti melintasi laut lepas. Perjalanan dapat dimulai dari Bandar Udara Raja Haji Fisabilillah menuju Pelabuhan Sri Bintan Pura dengan menggunakan angkutan kota. Kemudian, dari Pelabuhan Sri Bintan Pura perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Penyengat dengan lama perjalanan sekitar 15 menit menggunakan perahu pompong dengan ongkos perjalanan sekitar Rp 5.000. Bagi para pelancong disarankan agar tidak menempuh perjalanan pada sore hari menjelang malam. Karena biaya yang dikeluarkan untuk ongkos perjalanan dari pelabuhan menuju Pulau Penyengat atau sebaliknya bisa naik mencapai 200—300% dari harga normal.

Sementara itu, di Pulau Penyengat para wisatawan dapat menggunakan jasa becak bermotor untuk mengelilingi pulau tersebut. Termasuk menuju Benteng Bukit Kursi. Untuk mendapatkan jasa pelayanan becak bermotor tersebut, para wisatawan cukup membayar uang sebesar Rp 20.000 selama satu jam (November 2008). Para wisatawan tinggal duduk dan menunjukkan daerah tujuan wisata kepada pengemudi yang sekaligus bertindak sebagai pemandu.

Pulau Ranai ( Natuna )

Berkunjung ke Kabupaten Natuna, salah satu kabupaten kepulauan terluar di Indonesia, akan memberikan pengalaman menarik bagi wisatawan. Daerah ini memiliki perairan yang relatif bersih dengan lingkungan alam yang masih asri. Pada salah satu pulau terbesar di kabupaten ini, yaitu Pulau Ranai, terdapat potensi obyek-obyek wisata yang belum banyak dikenal, di antaranya Gunung Ranai dan Pantai Tanjung Ranai.

Mengunjungi pulau ini, sejak pendaratan pertama mata wisatawan akan langsung tertambat oleh bentangan lanskap alam berupa Gunung Ranai yang tampak elok menantang. Bahkan karena keindahannya, kantor-kantor Pemerintah Kabupaten Natuna seolah-olah memanfaatkannya sebagai latar belakang (background) pemandangan yang alami. Gunung Ranai terletak di Pulau Ranai, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia.

Sebagai sebuah gunung tertinggi di kawasan Natuna, Gunung Ranai tak hanya dikenal sebagai daerah pendakian yang menarik. Penduduk setempat yang umumnya bekerja sebagai nelayan juga memiliki pedoman mistis berkaitan dengan Gunung Ranai. Masyarakat percaya, apabila puncak gunung tersebut nampak diselimuti oleh awan tebal, maka perairan laut Natuna sedang tidak bersahabat. Hujan lebat, gelombang besar, bahkan badai dapat “dideteksi” melaui pertanda alam tersebut. Begitu juga sebaliknya, jika Gunung Ranai tampak dilatari langit yang cerah tanpa awan, pertanda laut sedang menyambut para nelayan untuk menangkap ikan.

Gunung Ranai merupakan gunung dataran rendah, sebab ketinggiannya berkisar antara 300—1.035 meter di atas permukaan laut (dpl). Meskipun demikian, para pelancong yang mendaki gunung ini akan menemukan fenomena menarik, yaitu gradasi jenis-jenis tanaman dari hutan dataran rendah hingga hutan dataran atas. Pada ketinggian tertentu, para pendaki akan menemukan tipe-tipe vegetasi yang memperlihatkan ciri khas pegunungan dataran atas (gunung dengan ketinggian rata-rata 2.000 meter dpl).

Menurut pengamatan tim dari Highcamp The Adventure‘s, sampai ketinggian 800 meter dpl, hutan di Gunung Ranai masih dominan ditumbuhi oleh jenis-jenis tanaman seperti meranti (dipterocarpaceae), rasamala (altingia excelsa), keruing (dipterocarpus spp.), dan turi (quercus spp.). Namun, antara ketinggian 800—968 meter dpl, akan tampak perubahan tipe vegatasi, yaitu perubahan dari tipe hutan dataran rendah ke tipe kawasan hutan dataran atas. Hal ini terlihat misalnya dari tumbuh-tumbuhan yang didominasi oleh semak, belukar, dan pohon-pohon dengan ukuran pendek seperti umumnya pada hutan dataran atas.

Fenomena alam ini biasa disebut sebagai hutan berawan dataran rendah (Lowland Cloud Forest). Hutan berawan (Cloud Forest) umumnya terjadi di wilayah pegunungan yang terdapat di pulau besar serta jauh dari pantai, atau bisa juga terjadi pada pegunungan di wilayah pulau yang kecil serta dekat dengan pantai. Tipe hutan seperti ini sebagian wilayahnya sering diselimuti oleh kabut, sehingga memungkinkan tipe-tipe vegetasi tertentu dapat tumbuh di kawasan gunung tersebut.

Untuk mencapai puncak Gunung Ranai, para pendaki harus melampaui tiga puncak berupa tebing batu dengan ketinggian yang berbeda-beda. Puncak pertama bernama Puncak Serendit dengan ketinggian 968 meter dpl. Puncak ini merupakan gugusan tebing dengan tinggi mencapai 100 meter. Puncak selanjutnya adalah Puncak Erik Samali yang berada pada ketinggian 999 meter dpl. Puncak ini merupakan tebing kedua dengan tinggi tebing sekitar 150 meter. Sementara puncak ketiga (puncak tertinggi) bernama Puncak Datuk Panglima Husin, terletak pada ketinggian 1.035 meter dpl. Seperti dua puncak sebelumnya, Puncak Datuk Panglima Husin juga merupakan tebing dengan ketinggian kira-kira 200 meter.

Para pendaki yang ingin menjajal tantangan Gunung Ranai sebaiknya berhati-hati dengan kondisi cuaca yang berubah-ubah. Sebab, tak jarang para pendaki harus rela turun sebelum mencapai puncak teratas akibat didera angin kencang dan diselimuti kabut tebal. Keputusan untuk mendirikan tenda atau menginap di atas gunung juga harus mempertimbangkan banyak faktor, seperti ketersediaan bahan logistik, peralatan yang cukup, dan kondisi cuaca yang bersahabat. Selain mendaki Gunung Ranai, wisatawan juga dapat menikmati panorama Kota Ranai dari ketinggian melalui obyek wisata Bukit Batu Sindu.

Pulau Ranai merupakan lokasi pusat Pemerintahan Kabupaten Natuna. Pulau ini berjarak sekitar 562 km dari Kota Tanjungpinang atau sekitar 589 km dari Kota Batam. Perjalanan menuju pulau ini dapat ditempuh dengan kapal laut maupun pesawat udara. Untuk transportasi laut, telah ada kapal laut dengan rute Tanjungpinang-Natuna. Hanya saja, kapal laut tersebut dapat mengundurkan jadwalnya karena cuaca buruk. Terutama pada bulan Oktober—April, di mana sedang berlangsung musim angin utara, biasanya perjalanan dapat terganggu oleh curah hujan yang tinggi, gelombang besar, maupun badai.  Selain kapal laut, wisatawan juga dapat memanfaatkan penerbangan Riau Air Lines (RAL) dengan rute Pekanbaru-Tanjungpinang-Ranai (PP) atau Pekanbaru-Batam-Ranai (PP) yang melayani penerbangan setiap hari. Setelah mendarat di Bandara Perintis Pulau Ranai (bandara yang dikelola oleh TNI-AU), wisatawan dapat melanjutkan perjalanan dengan mobil sewaan menuju Gunung Ranai.

Para pendaki gunung yang ingin mendirikan tenda dapat memanfaatkan puncak-puncak gunung yang kondisinya cukup landai. Namun, apabila memerlukan tempat penginapan, para pelancong dapat memperolehnya di Kota Ranai. Di Ibu Kota Kabupaten Natuna ini, wisatawan juga dapat menemukan berbagai fasilitas seperti pusat perkantoran Pemda Natuna, pusat-pusat perbelanjaan, tempat-tempat ibadah, perbankan, serta rumah makan. Untuk jaringan telepon seluler, wisatawan tak perlu khawatir, karena di Kota Ranai juga telah dibangun jaringan BTS (Base Transciever Station) untuk memperlancar jaringan telekomunikasi di daerah ujung utara Indonesia ini